Jumat, 22 Agustus 2008

www.thetrekkers.com di arena Jogja Bike Drive Week JBDW JAC Yogyakarta 2008 2

Berikut stand http://www.thetrekkers.com/ di arena Jogja Bike Drive Week JBDW JAC Yogyakarta 2008, yang berlangsung di arena Jogja Expo Center.

Acara ini berlangsung hari Jumat-Sabtu tanggal 22-23 Agustus 2008.

Silahkan kunjungi stand kami.




www.thetrekkers.com di arena Jogja Bike Drive Week JBDW JAC Yogyakarta 2008 1

JBDW merupakan event tahunan yang diadakan Jogja Automotive Community (JAC). Dalam kurun waktu 4 Tahun terakhir event ini telah diadakan sebanyak dua kali yaitu pada tahun 2005 dengan tema event Jogja Bike Week 2005 yang dihadiri lebih dari 7000 bikers dari seluruh nusantara dan berhasil memecahkan Rekor Muri dalam kategori konvoi motor terpanjang dimana event ini di sponsori secara penuh oleh Dji Sam Soe (PT. HM Sampoerna Tbk) selaku Sponsor Utama. Selanjutnya seiring dengan dinamika komunitas otomotif khususnya di Jogja, tercetus ide untuk membuat Gathering komunitas motor dan mobil yang akhirnya bernama Jogja Bike & Drive Week 2007 yang diadakan pada bulan Agustus di pelataran Balaikota Jogja. Event ini juga mendapatkan dukungan penuh dari PT.Pertamina (Enduro 4T dan Fastron Pertamina) sebagai pihak yang mensupport event JBDW 2007. Event yang berlangsung (JBW 05 & JBDW 08), keduanya merupakan event otomotif yang selalu mendapatkan dukungan penuh dari Walikota Jogja dan BP2KY selaku pihak yang berwenang dalam bidang pariwisata.

Berangkat dari pengalaman tersebut JAC selaku panitia penyelenggara dan sebagai wadah komunitas otomotif di Jogjakarta berkeinginan untuk selalu mengadakan event serupa setiap tahunnya. Tujuan diadakannya event ini tentunya untuk mempererat tali pesaudaraan (brotherhood.red) antar komunitas motor dan mobil yang ada baik komunitas lokal jogja maupun komunitas di luar jogja. Selain itu event ini juga bertujuan untuk menyemarakkan bidang pariwisata sehingga turut serta menambah pemasukan dari event ini melalui pajak yang akhirnya juga berdampak pada tempat-tempat wisata yang ada di jogja, Hotel serta Restaurant.


Oleh karena itu JAC akan mengadakan event JBDW tahun 2008 yang diadakan pada tanggal 22 dan 23 Agustus 2008 di Jogja Expo Center, Banguntapan, Bantul, Jogjakarta. kami segenap pengurus dan panitia mohon doa restu sehingga event ini dapat berjalan sesuai rencana. Besar harapan kami agar semua club maupun komunitas motor dan mobil yang ada di jogjakarta (baik yang sudah tergabung maupun belum) untuk terlibat secara aktif dalam kepanitiaan maupun memberi dukungan dalam bentuk apapun. kami juga membuka kesempatan kepada Perusahaan, Instansi, Organisasi, Komunitas, club, maupun perseorangan yang ingin mensupport dalam bentuk apapun sehingga event ini dapat berjalan sesuai rencana.


Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

Selasa, 19 Agustus 2008

http://thetrekkers.com/versi2/

http://thetrekkers.com/versi2/ inilah web versi ketiga www.thetrekkers.com. Setelah tahun 2004 dilaunching web versi pertama dan tahun 2005 versi ke dua.

Kami berharap web versi terbaru ini bisa lebih memudahkan konsumen untuk mencari barang yang dinginkan dan segera bertransaksi.

Demikian

Salam
Ferri Iskandar
www.thetrekkers.com

Minggu, 17 Agustus 2008

Mobile shop di Arena Suzuki Road Race Mandala Krida

Fotonovela berikut ini bercerita tentang kondisi "mobile shop" thetrekkers.com setelah lama vakum dikarenakan kesibukan mempersiapkan kelahiran bayi baru yaitu toko offline thetrekkers.com di jalan palagan km 9.

Semoga mobile shop di ajang suzuki road race ini merupakan cikal bakal yang akan terus berlanjut sehingga kelak mempunya mobile shop yang "sesungguhnya".

Mobile shop ini kira-kira akan berperan sebagai penjaring konsumen untuk datang ke toko offline dan online www.thetrekkers.com. Mobile shop ini akan mengunjungi event-event yang berkaitan dengan sepatu dan peralatan petualangan, safety, military dan bencana/emergency.

Foto-foto mobile shop ini diajang suzuki road race di Mandala Krida Yogyakarta 16-17 Agustus 2008




Sabtu, 16 Agustus 2008

mobile shop thetrekkers.com "sebuah mimpi"

Berikut kira-kira mobile shop yang di impikan oleh thetrekkers.com

Semoga ini menjadi faktor kali buat pengembangan usaha kami

Ferri Iskandar
http://www.thetrekkers.com/



Kamis, 14 Agustus 2008

Perahu Karet Arung Jeram

situasi banjir ataupun mau berolah raga arung jeram pasti membutuhkan perahu karet untuk sarana utamanya


saat ini http://www.thetrekkers.com/ sudah bisa menyediakan peralatan tersebut item barang tersebut bisa diliat di http://thetrekkers.com/sepatu.php?fungsi=Perahu%20Karet


salam
Ferri iskandar
www.thetrekkers.com







Peralatan dan Perlengkapan Arung Jeram

Peralatan dan Perlengkapan
April 25, 2008 oleh arung jeram


Peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam arung jeram dibedakan menurut kebutuhan kelompok/regu dan lamanya waktu mengarungi sungai, yaitu sebagai berikut:

II.1. PERALATAN REGU

II.l.l. PERAHU KARET

Perahu karet (Inflatable Raft) untuk keperluan olah raga arung jeram, dibuat dari bahan karet sintetis sedemikian rupa sehingga kuat tetapi tetap elastis. Hal ini dimaksudkan untuk menahan dari goresan dan benturan batu-batu sungai.

Bentuk dan rancangan bagian buritan dan baluan dibuat agak mencuat agar air tidak mudah masuk dan mampu menjaga kestabilan perahu ketika melewati ombak besar. Biasanya perahu terdiri dari beberapa bagian tabung udara, hal ini dimaksudkan apabila salah satu tabung perahu bocor /pecah, maka untuk suatu saat tertentu perahu masih dapat mengapung. Ukuran panjang dan lebar perahu biasanya 2 berbanding 1, dan ini sangat tergantung pada kapasitas berat maksimum muatan perahu tersebut.

II.1.2. DAYUNG
Dayung sebagai alat kayuh pada olah raga arung jeram sedapat mungkin dibuat dari bahan yang kuat tetapi ringan; misalnya kayu mahogany dan kombinasi antara fiberglass dan aluminium. Dayung yang dipergunakan oleh awak perahu, panjangnya berkisar antara 4,5 - 6 kaki. Tetapi umumnya adalah 5 - 5,5 kaki. Sesungguhnya faktor penentu ukuran panjang dayung ada tiga hal, yaitu : besar badan dan kekuatan awak, diameter tabung perahu, dan fungsinya, sebagai pendayung awak atau pendayung kemudi atau kapten.

Tanpa memandang besar tubuh awak perahu dan ukuran perahu, dayung yang digunakan oleh kapten adalah 5,5 - 6 kaki, sedangkan untuk awak perahu ukurannya lebih pendek.

II.1.3. POMPA DAN PERALATAN REPARASI

Pompa yang digunakan untuk mengisi tabung- tabung udara perahu harus selalu dibawa pada saat mengarungi sungai. Sebab hal itu untuk menjaga bila udara dalam tabung-tabung itu berkurang / kempes. Dimaksudkan dengan peralatan reparasi berkaitan dengan reparasi pompa dan perahu (karena sobek, berlubang dan lain-lain).

II.1.4. TALI

Perahu karet dilengkapi tali jenis karmantle sepanjang 40 meter yang digunakan sebagai : tumpuan kaki, pengaman awak perahu dan tali jangkar.

II.1.5. PETA SUNGAI

Biasanya digunakan adalah topografi sungai. Bermanfaat sebagai petunjuk memperkirakan situasi medan dan kondisi sungai yang akan diarungi, juga daerah aliran sekitar sungai tersebut.

II.1.6. EMBER PLASTIK ATAU GAYUNG

Digunakan untuk menimba air yang masuk ke dalam bagian dalam perahu. Biasanya penggunaan ember / gayung ini dilakukan apabila air yang masuk masih relatif sedikit. Bila sudah terlalu banyak, untuk membuangnya lebih efisien dengan membalikkan perahu, yang tentunya terlebih dahulu perahu tersebut dibawa ke tepi. Pentingnya membuang air yang masuk ke dalam perahu ini adalah agar perahu mudah dikendalikan.

II.1.7. PERLENGKAPAN PPPK

Mutlak harus dibawa. Jenis dan jumlah obatnya dapat disesuaikan dengan kondisi medan dan kebutuhan selama mengarungi sungai.

II.2. PERLENGKAPAN PRIBADI.

II.2.1. PELAMPUNG

Jenis pelampung yang baik dan benar untuk arung jeram adalah pelampung yang sesuai dengan ukuran postur tubuh, berisi gabus tebal (dapat berfungsi sebagai penahan benturan terhadap benda keras). Kelayakan dapat dilihat dari kualifikasi teruji dalam hal daya apung untuk berat maksimalnya.

Untuk kemungkinan menghadapi keadaan darurat, perlu dipertimbangkan mengenai penggunaan pelampung dengan tambahan di bagian belakang kepala, agar kepala tetap terapung tengadah, apabila ketika tidak sadarkan diri. Untuk menjaga agar pelampung tidak naik atau mencuat ke atas saat dipergunakan, maka bagian bawah pelampung dapat diikat ke pangkal paha atau bagian badan lainnya yang memungkinkan.

II.2.2. PAKAIAN

Pakaian yang tepat untuk berarung jeram adalah pakaian yang memungkinkan kita tetap leluasa dalam bergerak.

II.2.3. SEPATU

Untuk melindungi kaki dari kemungkinan terluka, gunakan jenis sepatu yang dapat melindungi mata kaki, namun pergelangan kaki dapat tetap bergerak bebas, termasuk memudahkan untuk berenang.

II.2.4. HELM (PELINDUNG KEPALA)

Mengarungi sungai berjeram dengan letak bebatuan yang tidak beraturan atau sungai dengan derajat kesulitan yang tinggi, helm mutlak digunakan. Tujuannya untuk melindungi kepala dari kemungkinan benturan benda keras. Helm yang baik harus ringan, tahan air dan tidak mengganggu pandangan maupun gerakan.

II.2.5. SURVIVAL KIT

Perlengkapan survival, harus selalu melekat di badan, tetapi usahakan jangan sampai mengganggu gerakan kita. Biasanya terdiri dari pisau lipat, korek api tahan air, dll. Sebagaimana disebut di atas, lamanya waktu mengarungi sungai juga mempengaruhi barang yang harus dibawa. Jadi peralatan tambahan diperlukan bila pengarungan memerlukan waktu sekurang-kurangnya satu minggu, yaitu :

Handy talky untuk komunikasi dengan tim darat. Container kedap air Bahan makanan Perlengkapan kemah Peralatan masak, makan, minum

III. SUNGAI

Bahasan akan berkisar pada aliran sungai serta gejalanya dan berbagai ketrampilan yang dibutuhkan untuk pengarung jeram. Memerlukan latihan yang sering dan berulang-ulang untuk jadi mahir membaca dan mengerti seluk beluk mengenai karakter sungai. Bagaimanapun bagi pengarung jeram suatu pengertian mengenai sifat dan dinamika sungai penting untuk diketahui. Suatu saat, ketika kita melintasi suatu sungai, pertanyaan yang ada di benak kita adalah : sungai itu lebar/sempit, berarus deras/lambat, debit airnya besar/kecil, landai/curam, dsb. Jawaban kesemuanya adalah merupakan faktor penyebab terjadinya jeram.

III.1. DEFINISI JERAM / RIAM

Jeram adalah bagian sungai dimana air mengalir dengan deras dan cepat dan bertaburan diantara banyak batu dari berbagai ukuran dan seakaligus membentuk turbulensi dan arus balik. Hal yang paling sulit ketika mengarungi sungai adalah pada saat menjumpai jeram / riam. Tapi disitulah kegembiraan biasanya muncul.

III.2. FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA JERAM

Secara umum ada 4 faktor penyebabnya :

III.2.1. VOLUME AIR

Menunjukkan ukuran jumlah air yang melewati satu titik tertentu di sungai dalam satuan waktu tertentu. Ukurannya cfs (cubiq feets per second). Data mengenai volume air penting untuk diketahui, bilamana volume air tinggi atau rendah, sehingga bisa memastikan apakah sungai bisa diarungi atau tidak.

Kondisi terbaik mengarungi sungai ketika volume mencapai 800 - 10.000 cfs. Biasanya ukuran volume air dapat dianggap sebagai tinggi air dan kekuatan aliran sungai.

Di negara kita, situasi ini dapat terjadi pada bulan April s.d November. Diluar bulan tersebut, sifat sungai akan cepat berubah secara drastis. Sungai dengan vol. 800 - 10.000cfs cenderung mudah dilalui, karena kendali melalui jeram dan rintangan relatif lebih mudah dikuasai. Sebaliknya sungai besar dengan vol diatas 40.000 cfs umumnya sulit dilalui dan dihindari.Sekali terjebak dalam lengkungan ombak dan menabrak rintangan batu, cenderung berakibat menghancurkan.

Untuk mengetahui jumlah volume / debit air suatu sungai pada suatu tempat dapat diukur;
Mengetahui luas penampang sungai. Hal ini dapat dilakukan dengan mengukur lebar sungai pada satu titik, kemudian mengukur kedalaman sungai setiap 5 meter dari satu titik ke titik lainnya pada satu garis lebar sungai.

Mengetahui kecepatan arus sungai.

Arus air diukur dengan menghitung waktu tempuh yang diperlukan oleh suatu obyek untuk menempuh suatu jarak tertentu.

Volume / debit air sungai dapat diketahui dengan mengalikan luas penampang sungai dengan kecepatan arusnya. Untuk melakukan pengukuran volume/debit air ini kita harus mencari tempat yang memungkinkan kita untuk dapat menyeberanginya dengan mudah untuk mengukur kedalaman dan lebar sungai, serta arus sungai yang relatif sama pada tempat kita mengukur volume/ debit air sungai supaya tercapai akurasi yang tinggi.

III.2.2. TINGKAT KECURAMAN ALIRAN SUNGAI (GRADIENT)

Tingkat kecuraman / kemiringan aliran sungai menunjukkan nilai rata-rata penurunan dalam suatu jarak tertentu. Setiap sungai pada jarak tertentu mempunyai tingkat kecuraman yang berbeda. Kadang tajam dan sebaliknya mendatar. Kecuraman bisa dianggap sebagai petunjuk kasar tingkat kesulitan dan kecepatan alur aliran sungai.

Sungai dengan tingkat kecuraman lebih kecil dari 10 kaki per mil biasanya alirannya lambat dan mudah untuk dilalui, sebaliknya bila mencapai 20 kaki atau lebih per mil baisanya arusnya cepat, berbahaya serta sulit dilalui.

Untuk mengetahui tingkat kecuraman / kemiringan (gradient) suatu sungai dapat dilihat pada topografi sungai tersebut.

III.2.3. TONJOLAN DASAR SUNGAI (ROUGHNESS)

Letak batuan atau tonjolan di dasar sungai yang tidak beraturan mengakibatkan turbulensi aliran arus sungai. Semakin tak beraturan letak batu di dasar sungai, semakin besar turbulensinya (putaran air ke hilir).

III.2.4. PENYEMPITAN LEBAR PENAMPANG SUNGAI (CONSTRICTION)

Penyempitan lebar penampang sungai, diakibatkan oleh pendangkalan dan kejadian alam lainnya. Semakin sempit aliran sungai, semakin deras arus air mengalir.

lll.3. KOMPONEN JERAM/RIAM

Bagian dari jeram/riam, terdiri dari beberapa komponen, sebagai berikut:

III.3.1. LIDAH AIR (THE TONGUE)

Terbentuk dari dua alur yang terhambat batu dan bertemu membentuk huruf ‘V’ yang mengarah ke hilir. Bila terdapat lebih dari satu lidah air,maka yang terbesar merupakan jalur utama yang sebaiknya dipilih. Biasanya setelah melalui lidah air, pada ujung lidah air akan diikuti oleh ombak besar yang teratur.

III.3.2. OMBAK BERDIRI (STANDING WAVES)

Benturan akhir arus kuat yang mengalir ke bawah dengan arus lambat yang mengalir secara mendatar di dasar sungai membentuk gelombang ke atas yang permanen dan yang disebut sebagai ombak berdiri. Ombak berdiri yang mencapai ketinggian lebih dari 3 meter disebut haystacks.

Rangkaian ombak berdiri diawali oleh ombak yang lebih besar dan tinggi yang berangsur-angsur menjadi rendah. Selagi perahu melewati bagian ini, usahakan bagian haluan masuk dalam posisi lurus dan dayung mundur akan membantu perahu masuk melewati ombak yang berikutnya. Jika terpaksa harus melakukan ferry, maka hindari ketika perahu dalam posisi naik, dengan kata lain ferry dilakukan saat perahu menuruni ombak.

Perlu diketahui, bahwa deretan ombak yang curam dan bagian puncaknya terpecah, sebaiknya dihindari karena turbulensi/putaran baliknya sangat kuat, tetapi ombak dengan puncak yang relatif mendatar merupakan alur yang aman, sebab perahu dapat naik di atasnya.

III.3.3. ARUS BALIK (REVERSAL / HOLES / STOPPER)

Menggambarkan aliran sungai yang mengayun keatas dan berputar ke belakang dengan sendirinya. Secara umum terdapat 3 bentuk arus balik sebagai berikut :

1. Disebabkan oleh batu yang berada di bawah permukaan air dan menghambat aliran air, mengakibatkan permukaan berikutnya berputar ke belakang dari bawah. Reversal ini menghasilkan buih-buih yang tersebar dan mengalir ke atas dan mendatar kebawah. Reversal kecil ini, dapat sementara menahan perahu untuk berhenti, tetapi reversal besar dapat membuat perahu terbalik dan awak perahunya tenggelam dan mati. Sedapat mungkin jenis reversal ini dihindari tetapi bila terlanjur masuk, usahakan agar perahu masuk lurus dan dayung maju sekuat-kuatnya dilakukan serempak agar mencapai arus maju di dasar sungai dan sekitarnya sehingga dengan segera dapat keluar dari radius reversal ini.

2. Hydraulic, merupakan reversal yang disebabkan oleh aliran yang turun secara vertikal. Jenis reversal ini hampir sama dengan reversal di atas, tapi daya putarnya lebih kuat. Hydraulic sangat berbahaya, karena bisa membalikkan perahu dan menenggelamkan awaknya.

3. Back Curling Standing Wave, merupakan reversal yang ujung lidahnya bergelombang melengkung ke belakang. Arus balik ini dengan mudah dapat membalikkan perahu. Biasanya gelombang bentuk ini berpasangan dan ombak pertama dapat mengangkat perahu dan ombak berikutnya memutar dan membalikkannya. Untuk mencegah kejadian ini, dayung korektif yang kuat untuk menahan gaya putar pada ombak pertama tadi.

III.3.4. PUSARAN AIR / ARUS BALIK (EDDIES)

Menunjukkan suatu tempat, dibalik batu dimana arus sungai berhenti dan mengalir ke arah hulu. Daerah turbulensi antar suatu pusaran air dengan arus ke hilir biasanya ditandai dengan air melingkar dan bergelembung dan ini biasa disebut sebagai garis atau batas pusaran air / eddies. Jika tenaga pusarannya begitu kuat, maka batas pusaran menjadi putaran turbulensi yang berbahaya karena dapat menarik perahu berputar-putar dan terbalik.

Pusaran air banyak dijumpai di air yang mengalir cepat secara beruntun dan dihadang batu besar yang terletak di bagian tengah atau tepi sungai. Bermanfaat sebagai tempat beristirahat atau sebagai tempat mengamati kondisi sungai di bagian hilir.

III. 3.5. BELOKAN (BENDS)

Belokan sungai perlu dipelajari karena merupakan dasar untuk memasuki belokan jeram / riam yang terletak di antara sela batu.

Pada belokan sungai, arus yang cepat dan aliran yang dalam terdapat pada lingkaran bagian luar belokan sungai, antara lain akibat adanya kekuatan centrifugal, karenanya permukaan aliran arus yang berbelok cepat, sebaiknya yang dilalui bagian dalamnya. Perahu yang terperosok dan terlanjur masuk ke ke aliran tepi belokan sungai, kerap kali tidak ada pilihan lain untuk keluar dan baisanya kemungkinan akan terhempas atau menabrak bagian tepi sungai.

III.3.6. AIR DANGKAL (SHALLOWS)

Kerap kali dijumpai pada penampang sungai yang melebar, memaksa awak perahu untuk memilih serta mencari dengan berbagai cara dan hati-hati, untuk memilih berbagai jalur untuk lewat. Ketika sedang mengamati berbagai jalur di antara air dangkal, maka yang perlu diingat sebagai petunjuk bahwa permukaan air dengan ombak yang besar biasanya menunjukkan aliran / alur sungai yang terdalam dan memiliki arus yang cepat, masuklah ke jalur ini.
Jika suatu tepi sungai permukaannya tinggi, sedang lainnya rendah, maka jalur yang dipilih terletak mendekati tepi yang tinggi. Tempat-tempat yang perlu dihindari adalah dimana aliran sungai yang berombak kecil-kecil, karena merupakan tanda yang kuat bahwa tempat tersebut dangkal.

lll.4. SKALA TINGKAT KESULITAN SUNGAI

Dengan berbekal pengetahuan tentang sifat dan dinamika sungai di atas maka dengan segera kita dapat mengatisipasi pada saat tertentu, saat kita berada dalam kesulitan.
Kondisi yang menyatakan bahwa sungai berjeram itu sulit atau tidak, ditunjukkan melalui skala tingkat kesulitan sungai. Saat ini ada 2 skala yang dikenal dalam olahraga arung jeram, yaitu :

III.4.1. INTERNATIONAL SCALEAngka ukurannya adalah I s.d. VI; I = mudah dan VI = amat sulit dan tidak mungkin dilalui. Angka skala kesulitan ini berlaku dan digunakan di sungai-sungai Amerika Utara dan juga daratan Eropa.

III.3.2. WESTERN SCALEAngka skala ini diperkenalkan oleh penguasa Grand Canyon di Amerika yaitu Doc Marston. Ukurannya berkisar 1 s.d 10. Angka skala ini umumnya hanya digunakan di sungai bagian Barat Amerika, salah satunya Colorado.

INTERNATIONAL SCALE WESTERN SCALE DESCRIPTION

0 I air mendatar dan tenang

1 – 2 II Ombak bergelombang kecil, mudah dan tidak ada rintangan/ hambatan yang berarti. Lintasan jalur/ alur sungai sangat jelas

3 – 4 III Tingkat kesulitan jeram agak moderat, sedang, dan lintasan jalur/alur sungai sangat jelas. Memerlukan pengalaman yang cukup ditambah perlengkapan dan perahu yang memadai.

5 – 6 IV Sulit, ombak bergelombang tinggi dan tak beraturan, berbatu-batu, banyak pusaran air, jeram berlintasan sangat jelas tapi sempit. Untuk mengarunginya dibutuhkan keahlian meng-kendalikan perahu.

7 – 8 V Sangat sulit, aliran sungai berjeram panjang dan berturut-turut dan berombak kuat,tak beraturan dan banyak batuan yang membahayakan, pusaran air yang berbuih-buih,lintasan sulit diintai.Diperlukan kendali yang tepat dan cepat.Diutamakan awak perahu yang berpengalaman dan perlengkapan yang terbaik.

9 – 10 VI Teramat sangat sulit,jeramnya sulit dikendalikan berbahaya dan berturut-turut sepanjang jarak tertentu.Diantara awak perahu tidak ada kesempatan saling menyapa,karena setiap saat dihadapi arus berbahaya,aliran yang sangat curam.Kondisi seperti ini sangat memerlukan awak perahu dan perlengkapan yang terbaik.Seluruh awak harus berhati-hati dan tetap waspada.

U Sama sekali tidak mungkin dilalui.

IV. PENGETAHUAN DASAR BERARUNG JERAM

Ketrampilan berarung jeram memerlukan waktu untuk berkembang. Kemampuan membaca sifat sungai semata-mata tidak hanya tergantung pada kemampuan intelektual, tetapi juga seringnya mempelajari dan mengarungi sungai itu sendiri. Dengan kata lain, kemampuan mengendalikan perahu memerlukan pengertian dan pemahaman tentang segala teknik mendayung dan banyak latihan. Jadi pada dasarnya merupakan gabungan antara pengetahuan teoritis dan pengalaman.

Bagi pemula, sungai tenang merupakan pilihan tempat berlatih, berangsur-angsur meningkat pada sungai yang makin sulit jeramnya. Berikut beberapa petunjuk pengetahuan dasar berarung jeram :

IV. 1. TEKNIK MENDAYUNG

Secara umum perahu karet dikendalikan dengan dua cara :
1. Hanya seorang yang mendayung dengan dua buah dayung panjang. Pendayung itu sekaligus berfungsi sebagai kapten di perahu tersebut. Sistem ini disebut OAR TECHNIQUES.
2. Seluruh awak mendayung dan seorang sebagai kapten. Sistem ini disebut PADDLERAFT TECHNIQUES . Dan selanjutnya teknik inilah yang akan dijelaskan disini.

IV.1.1. MENGATUR POSISI DUDUK PADA PERAHU KARET

Duduk di perahu karet sebenarnya tidak ada aturan mutlak, karena tergantung dari rasa keseimbangan dan kenyamanan yang dipunyai oleh tiap awak perahu. Namun begitu cara duduk yang dikenal selama ini ada dua : Pertama dengan duduk seperti menunggang kuda (Cowboy style) dimana kedua kaki menjepit lingkaran tabung udara perahu. Sedang cara kedua adalah seperti orang perempuan duduk membonceng sepeda motor, dimana kedua kaki masuk ke bagian dalam perahu.

Bagi awak perahu yang memilih duduk dengan cara cowboy style harus selalu waspada dan segera menarik kaki bagian luar ke dalam ketika perahu akan menabrak batu. Pada pengaturan posisi awak perahu diusahakan membagi kekuatan secara seimbang antara kedua sisi perahu, dan bila jumlahnya ganjil, maka ada yang duduk di buritan perahu untuk bertindak sebagai kapten dan mengemudi, mengarahkan perahu ketika satu sisi atau lainnya mendayung tidak serempak.

IV.1.2. GERAK DAN ARAH MENDAYUNG

Dalam mendayung tidak perlu berlebihan tanpa arah yang tepat. Tetapi kalau memang dibutuhkan tambahan kecapatan, maka masukkan gagang dayung ke dalam air dan kayuh dengan tenaga penuh. Pada kesempatan ini otot perut dan tangan dikerahkan untuk mendapatkan tenaga yang optimal dan efektif.

Gerakan dan arah mendayung yang perlu dipahami oleh semua awak perahu adalah sebagai berikut :

1. Dayung Maju (Forward Strokes)

Dimulai dengan mendorong daun dayung ke muka dengan tangan sebelah luar. Kemudian tahan sebentar posisi ini dengan kuat dorong pegangan dayung ke muka untuk menekan daun dayung dalam-dalam ke air. Lanjutkan mendayung dengan mendorong pegangan sekaligus menarik gagang dayung, dengan mempertahankan daun dayung pada sudut yang benar sehingga dayung berada di bawah pantat. Keluarkan daun dayung kemudian putar daun dayung sejajar permukaan air. Ulangi lagi. Ini sering disebut dengan dayung kuat. Jenis mendayung maju lain adalah dengan menempatkan dayung lebih ke luar.

2. Dayung Balik (Back Stroke)

Kebalikan dari forward stroke. Celupkan daun dayung ke dalam air sehingga jauh ke belakang pantat, kemudian dorong gagang ke muka sambil menarik pegangan ke belakang dan gerakan ini berakhir ketika daun dayung berada pada posisi awal dayung maju.

3. Dayung Tarik (Draw Stroke)

Dilakukan dengan menancapkan daun dayung jauh ke samping dan kemudian tarik ke arah perahu dengan lurus.

4. Dayung Menyamping (Pry Stroke)

Merupakan kebalikan dari dayung tarik dan merupakan pelengkap untuk mengendalikan perahu dan biasanya dilakukan kapten yang duduk di buritan untuk mengendalikan perahu.

IV.1.3. KOMANDO DAN KAPTEN

Berarung jeram memerlukan tindakan dan keputusan yang cepat dan tepat karena setiap awak perahu memerlukan seorang pemimpin / kapten untuk menyatukan tindakan seluruh awak. Seorang kapten tidak perlu harus memiliki status atau kekuatan tertentu, tapi harus pandai membaca situasi sungai; dia merupakan seorang awak, yang untuk sementara bertindak mengendalikan perahu melalui instruksi-instruksi. Yang paling menyenangkan apabila semua mendapat kesempatan menjadi kapten. Bagi pemula, menjadi kapten berarti mempercepat proses peningkatan kemampuan dan ketrampilan berarung jeram.

Mengingat perlunya komunikasi yang seragam antar awak perahu dengan kapten, secara sepakat harus disetujui adanya sejumlah komando ulang jelas dan singkat :


  • Maju,semua mendayung maju.

  • Kuat,semua mendayung kuat.

  • Dayung balik, semua mendayung balik.

  • Belok kanan, sebelah kanan mendayung balik ,sebelah kiri mendayung maju.

  • Belok kiri, sebelah kiri mendayung balik, sebelah kanan mendayung maju.

  • Tarik kanan, sebelah kanan dayung tarik, sebelah kiri dayung menyamping.

  • Tarik kiri, sebelah kiri dayung tarik, sebelah kanan dayung menyamping.

Selain itu ada 2 macam komando lain yang digunakan pada saat tertentu, yaitu saat kapten menginginkan perahu bergeser ke kiri atau ke kanan dengan cepat dengan hidung perahu bergerak lebih ke luar lagi. Kedua macam komando tersebut :

9. Pancung kanan, sebelah kiri dayung maju kuat, pendayung terdepan maju ke hidung perahu dan melakukan dayung kuat kearah kanan perahu, sebelah kanan dayung tarik.

10. Pancung kiri, sebelah kanan dayung maju kuat, pendayung terdepan maju sampai hidung perahu dan melakukan dayung kuat ke arah kiri perahu, sebelah kiri dayung tarik.

Untuk menyatakan pendayung berhenti mendayung, kapten dapat meneriakkan komando stop atau berhenti.

IV.1.4. MANUVER

Ferry merupakan teknik dasar manuver. Digunakan ketika melewati belokan sungai dan menghindari hambatan / rintangan jeram.

Ada 2 macam ferry, haluan mengarah ke hulu (Bow Upstream ferry) dan haluan mengarah ke hilir (Bow Downstream ferry).

Bow Upstream ferry dilakukan dengan dayung maju dan mengarah posisi perahu ke hulu dengan sudut 45 derajat, terhadap aliran arus dan perahu akan menuju arah yang diinginkan. Sebaliknya Bow Downstream ferry dilakukan dengan dayung balik dan mengarahkan buritan ke hulu dengan sudut 45 derajat menuju arah tempat yang diinginkan.

Jika kecepatan perahu ke hilir ingin diperlambat, maka lakukan Bow Upstream ferry dengan sudut kurang dari 45 derajat dan sebaliknya perbesar sudut hingga tepat atau mendekati aliran alur sungai. Umumnya sudut ferry sebesar 45 derajat adalah sudut optimum. Sudut ferry adalah sudut antara perahu dengan arah aliran sungai bukan dengan tepi sungai. Pada aliran pelan sangat mungkin melakukan ferry lurus memotong aliran arus air, tetapi dengan arus cepat, kebanyakan usaha memotong aliran arus dilakukan dengan ferry bersudut ox sampai 45 derajat.

IV.2. PENGINTAIAN (SCOUTING)

Pengintaian untuk mengamati jeram yang belum dikenal, selelu dipandang sebagai tindakan yang bijaksana, khususnya bagi pemula. Pengintaian sejumlah jeram meliputi pencarian tempat mendarat yang aman, bebas dari air yang menyulitkan. Semua dilakukan dengan berjalan sepanjang tepi sungai untuk mengetahui dan menemukan bagaimana kesulitan dan bahaya yang mungkin akan dihadapi dalam berarung jeram. Sekali diputuskan untuk melewati jeram tertentu, maka usahakan seoptimal mungkin lewat jalur terbaik dan aman.

Pentingnya melakukan pengintaian terhadap situasi sungai berjeram karena berhubungan dengan beberapa faktor penentu untuk memutuskan untuk melewati jeram tertentu atau tidak. Adapun factor tersebut adalah sebagai berikut :

Panjang, kesulitan dan bahaya jeram yang bersangkutan. Bagaimana sifat-sifat air yang berada di bawah jeram. Kesanggupan dan kemampuan awak perahu untuk menyelamatkan diri pada jeram yang sulit. Persiapan mental seluruh awak.

CATATAN : Biasanya awak perahu terdiri dari orang-orang berpengalaman, tetapi kadang-kadang lebih banyak yang bersumber pengalaman dan karena itu pemula seharusnya tidak ikut berarungjeram bila peralatan pengaman tidak cukup memadai, dan dalam kondisi seperti ini, mutlak pengarungan harus ditunda atau dibatalkan. Tahap selanjutnya setelah melalui pengintaian adalah berembuk merencanakan jalur pengarungan.

IV.3. PERENCANAAN JALUR (PLANNING A COURSE)

Sebelum melewati jeram, rencanakan dahulu jalur mana yang mungkin dipilih, karena bila diamati dengan seksama ada banyak alur jeram yang secara langsung merupakan rintangan yang harus dihindari. Pilih jalur termudah. Dengan melewati suatu jalur jeram yang tepat, berarti jeram yang dilewati tersebut tidak perlu dengan melakukan manuver yang berlebihan. Cukup mengikuti kecepatan aliran arus air yang ada pada jeram tersebut.

Pada aliran yang bertenaga kuat, minimumkan usaha manuver, karena manuver cenderung memepercepat keadaan perahu terbalik. Sebab akhir dari aliran arus yang kuat membentuk ombak dan gelombang yang tinggi.

Dalam memutuskan suatu jalur tetentu, resiko melakukan kesalahan harus diperhitungkan. Kerap kali setelah kita menentukan suatu jalur, berulang kali harus diamati dari mulut hingga kaki lidah air.Setelah berhasil melalui alur diantara batu-batu, maka jalur-jalur tersebut dipelajari dan diingat kembali untuk digunakan sebagai pegangan / patokan dalam pengarungan selanjutnya.

IV.4. MENGHADAPI KEADAAN DARURAT

Suatu keadaan darurat dalam olah raga arung jeram disebabkan beberapa hal sebagai berikut:

IV.4.1. MENABRAK BATU

Menabrak batu yang muncul di permukaan air, umumnya jarang berakibat fatal bila diatasi dengan cepat dan tidak panik. Jika tabrakan dengan batu tak mungkin dihindari, maka arahkan haluan ke batu tersebut. Akibat dari tindakan ini, perahu akan terhenti sesaat dan arus di sekitar batu akan memutar perahu dan bagi awak perahu yang kurang waspada biasanya akan terpental dari perahu. Lakukan langkah-langkah pengamanan dengan posisi siap mendayung untuk keluar dari situasi berbahaya lebih lanjut, di sebelah hulu.

IV.4.2. MENEMPEL DI BATU

Bilamana perahu menabrak batu pada sisi kiri / kanan maka seluruh awak dari sisi lainnya harus segera berpindah ke sisi dimana perahu itu menempel di batu. Dorongan arus yang kuat dari hulu akan mengengkat naik perahu dan menempel di batu.

IV.4.3. TERBALIK

Bila perahu akan terbalik waspada dan hati-hatilah terhadap bahaya berikutnya, baik terhadap benda-benda keras di dalam perahu atau batu itu sendiri. Jika perahu akibat dari tabrakan itu terbalik, maka segera melompat kearah yang bebas dan aman. Bagi awak perahu yang tidak dapat segera lepas dari perahu yang terjebak, tertutup dalam bagian perahu yang terbalik. Segera keluarlah pada situasi seperti ini, sehingga akan terhindar dari benturan batu bagian bawah yang tidak terlihat.

CATATAN : Bila menabrak batu dengan haluan di muka, reaksi dan respon orang-orang di buritan harus segera berpindah ke tengah, dengan demikian perahu akan terhindar dari terbalik atau terangkat menempel di batu.

Perahu yang terbalik dan tidak dapat segera dikembalikan ke posisi semula dengan ringan / mudah, maka tali dan tenaga aliran sungai dari hulu dapat membantunya, dan ini dilakukan setelah perahu bebas dari aliran arus yang kuat dan berjeram.

Awak perahu naik ke sisi perahu yang mengarah ke hulu. Setelah perahu dimiringkan dengan bantuan tali, arus sungai dari bagian hulu akan membantu mendorong bagian bawah yang memutar perahu untuk dan mudah dibalikkan kembali.

IV.4.4. BERENANG DI JERAM

Bila awak perahu terlempar dari perahu, berteriaklah agar diketahui oleh teman yang lain. Berenanglah ke arah tepi atau ke arah perahu. Posisi berenang yang benar pada sungai yang berjeram dan berbatu yaitu dengan muka menghadap ke hilir. Tetapi pada jeram tanpa batu, posisi berenang adalah mendatar di atas perut seperti biasa. Bagaimanapun saat berenang harus memperhatikan rintangan atau hambatan batu di depan, perhitungkan arah arus agar dapat menghindar terhadap rintangan berikutnya.

By: smayamtala2000
http://arungjeram.wordpress.com/2008/04/25/peralatan-dan-perlengkapan/

internet marketing nya www.thetrekkers.com

Wednesday, November 15, 2006
Internet Marketing


Internet Marketing adalah kegiatan "marketing" dengan memanfaatkan teknologi internet. Seperti diketahui sifat khas internet yang antara lain bisa diakses siapapun diseluruh dunia, tanpa batas negara, dan "seketika" telah menyebabkan revolusi informasi yang luar biasa. Penggunanya juga semakin hari semakin banyak, aplikasi dan teknologi internet berkembang pesat terkadang melebihi kemampuan otak kita mencernanya. Dengan semakin banyaknya orang yang menggunakan ingternet, yang ternyata tidak hanya mencari informasi saja tapi juga berinteraksi dan mencoba memenuhi kebutuhanya. Berbagai kemudahan teknologi internet dipergunakan dalam berbisnis dan salah satunya adalah "marketing".

macam-macam bentuk dari internet marketing ini. Apa yang sudah mas Ferri lakukan dengan mengonlinekan bisnisnya di http://www.thetrekkers.com/ belum disebut ber "internet marketing" jika tidak melakukan tindakan "internet marketing", tapi baru Online Bisnis. Berapa banyak kita menemukan website bisnis yang hanya menjadi semacam papan pengumuman bisnisnya, tanpa fiture dan content yang menggiring terjadinya transaksi. Tindakan internet marketing antara lain adalah riset pengguna internet potensial yg menjadi sasaran marketnya, membangun website sesuai kaidah2 yang berlaku dalam internet marketing dan melakukan search engine optimazion (website harus search engine friendly), mendatangkan traffic / pengunjung website berkualitas sebanyak-banyaknya, tehnik2 mengkonversi pengunjung menjadi pelanggan tetap, dll sehingga website bukan sekedar mengOnlinekan bisnis konvensional, tapi benar-benar mendatangkan pembelian / transaksi yang signifikan kalau tidak 100% menggantungkan order dari tindakan internet marketing.

Siapapun yang melakukan tindakan internet marketing disebut internet marketer, entah dia punya produk atau tidak, dan entah menjalankanya full time atau hanya sebagai kegiatan tambahan/paruh waktu. Bagi yang belum punya produk sendiri bisa menjualkan produk orang lain (affiliate), macam2 bentuk kerjasama dan pembagian komisi affiliate ini. Bagi yang sudah punya produk seperti mas ferry tinggal mengonlinekan dan memasarkanya di Internet. Nah menurut sebagian internet marketers, internet marketing lebih cepat menghasilkan uang dan lebih simple mengurusnya jika produk utamanya berupa produk yang "downloadable" (software, e-book, webhosting, dll). Tapi produk real barang seperti www.thetrekkers.com juga berpotensi besar sekali, apalagi jika targetnya bukan hanya lokal, tapi internasional, ,, hmmm .

Kebanyakan pembicara di GIS kemarin melakukan ini, sukses menghasilkan uang terbanyak melalui program affiliate, demikian pula yang dilakukan Anne Ahira, suhu internet marketing dr Indonesia. Tapi sebenarnya lebih enak punya produk sendiri dan dipasarkan secara affiliate, keuntungan berlipat akan didapatkan tanpa usaha yang berlebihan (awalnya saja perlu kerjakeras, setelah itu kipas2 pakai uang). Hanya sayang di Indonesia internet marketing ini banyak juga digunakan untuk promosi mlm, tapi dengan cara2 yang tidak etis (spam, money game dll).

Dan sebenarnya diam-diam sudah banyak orang Indonesia yang sukses di internet marketing, salah satu contoh kisah suksesnya bisa dilihat di Link berikut : http://www.kaskus. us/showthread. php?t=67717

Maaf kalau ada yang salah, silahkan diluruskan dan dilengkapi.

Salam Dahsyat,

M.Muslih

sumber : http://mariohendracia.blogspot.com/2006_11_01_archive.html

Tenda Juara - Tenda Rofi - Tenda Gerbong


Saya berterima kasih banget bisa beli tenda di Pak Ferry.

Cara pemasangan yang betul, mudah dan bagus sudah kami kuasai, Pak. Bahkan beberapa waktu lalu kami gunakan untuk Jambore Koperasi Siswa di wilayah Malang Raya. Alhasil semua kagum dengan tenda kami, bahkan wali kota pun berhenti sejenak untuk memuji tenda dan lingkungan tenda kami. Didukung tenda dan perhiasan perkemahan yang lain, kami mendapatkan kategori tenda juara 1 putri dan juara 2 putra.

Saya secara pribadi ingin mengusulkan beli tenda yang sama, namun harus bersabar dulu. Karena menurut saya, meski kami memiliki banyak tenda, masih kurang dan perlu diremajakan untuk tenda yang lama.

Demikian Pak info dari Malang, semoga usaha Pak Ferry semakin maju dan berkembang.

Wasalam
D.L Pambudi

berikut rangkaian foto tenda diatas secara lebih detil dan spesfikasi nya
Tenda berbentuk Tunnel
Kapasitas 15-17 orang,
Double deck
Warna putih
Bobot 40 kg
Ukuran : 4 x 3 x 2 m







Sabtu, 09 Agustus 2008

Perahu Kano Indian

Ingin menyusuri sungai seperti orang-orang indian yang hanya bisa kita tonton di film cowboy saja? Nah .. http://www.thetrekkers.com/ sekarang bisa menyediakan perahu kano indian ini dengan bahan fiber. Silahkan menikmati foto-foto nya















Perahu Kano Transparan

Kapan yaa di Indonesia bisa ditemui perahu seperti ini ? apa sudah ada yang punya??



Rabu, 06 Agustus 2008

tas ransel gendongan bayi, ponakan merek deuter


Bagi ibu ataupun bapak yang masih suka berpetualang dan menginginkan buah hati tetap dibawa maka tas ransel gendongan bayi ini layak untuk dimiliki.

Tapi tas gendong bayi ini juga sangat pantas untuk dibawa berbelanja ke pasar ataupun pusat perbelanjaan

salam
Ferri Iskandar
http://thetrekkers.com/sepatu.php?fungsi=Baby%20Adventure%20Tools

Info : jual sepatu desert boot


Rekan-rekan AirSoftgun

Jika ada kebutuhan sepatu desert boot silahkan kontak kami

Foto produk bisa dilihat di http://www.thetrekkers.com/sepatu.php?id=302

salam
Ferri Iskandar
www.thetrekkers.com
Jl. Palagan Tentara Pelajar (sebelah Selatan Hotel Hyatt)
Sedan No. 43 Sarihardjo, Sleman, Yogyakarta, Indonesia
Telp +62-815-794-3358; +62-274-866-000
Fax +62-274-866-000 ; Email : ferriisk@yahoo.com

Tenda Tiup untuk Antisipasi Bencana


Tenda ini sangat cocok disaat disaster melanda ataupun dalam kondisi normal seperti bakti sosial ataupun rumah sakit lapangan

Terbuat dari bahan PVC dan gampang dalam mendirikannya membuat pembeli memilih tenda tiup ini



silahkan kunjungi http://thetrekkers.com/sepatu.php?id=348

salam
Ferri Iskandar
www.thetrekkers.com

Merawat Sepatu oleh Ambar dan Raymond

Kalau sepatu tergantung sama bahan dan siapa pembuatnya. Juga kalau boleh nanya ini sepatu boots atau sepatu trekking biasa ? Sepertinya yang kamu punya itu bahannya dari kulit. Memang untuk sepatu kulit kudu rajin merawat. Ini tips nya :

1. kalau kotor segera dibersihkan di air mengalir (jangan panas dan jangan dingin) atau dengan sapu (saya pake tongkat kecil) untukmembersihkan lumpur/kotoran yang banyak.

2. Kalau basah, jangan dikeringkan dibawah sumber panas langsung tapi diangin-anginkan. Taruh gulungan kertas bekas surat kabar ke dalam sepatu untuk mengeringkan bagian dalam.

3.Kalau punya semacam pelapis pelindung (saya pakai Nixwax) maka dioleskan dengan jari ke sepatu ketika setengah kering (inget jangan pas kering soalnya jadi ngg manjur)

4. Kalau ada pelapis tahan air seperti Gore Tex biasanya caranyamirip, mereka malah memperbolehkan pakai sabun yang tidak keras (shampoo misalnya) tapi jangan dengan conditoner.

5. Punya wadah khusus sepatu trekking ; ini seperti tas kecil yang bisa dimasukkan ransel. Ternyata ini cukup melindungi sepatu dari basah juga ngg bikin polusi benda2 lain di dalam ransel (he he hecontohnya bau apex).

6. waktu penyimpanan tali-tali sepatunya kalo bisa dilonggarin semua..bener kata mbak'e..biasanya waterproof dari pabrikan sepatu cuman tahan sampe 2-3 kali pemakaian, jadi harus disemprot/oles waterproofing periodik.

7. waktu pas jalan jangan lupa bawa tali sepatu cadangan, kalo udah lama tali sepatu biasanya friksi akibat gesekan sama pinnya..kalo pas ngga bawa tali cadangan ya pake tali pengikat di gaiter.

Diskusi dimilist oleh Raymond+N-> dan ambar

TIPS Merawat Sepatu Panjat Tebing

Olahraga panjat tebing adalah olahraga yang berisiko tinggi, tidak sembarangan orang bisa melakukannya. Di samping membutuhkan latihan yang cukup, diperlukan juga peralatan yang mendukung pemanjatan.

Berbicara tentang peralatan panjat tebing, sepatu merupakan salah satu pendukung yang harus dimiliki bagi pemanjat pemula maupun profesional. Di samping memaksimalkan pemanjatan, jenis sepatu ber-sol karet ini juga melindungi kaki dari gesekan yang mengakibatkan luka. Melihat interaksi sepatu terhadap batu atau dinding yang begitu intens, sepatu menjadi barang yang rentan terhadap kerusakan. Tak jarang kita temui pemanjat pemula yang sepatunya cepat rusak.

Kalau mau ditilik lagi, hal ini bisa jadi disebabkan karena mereka – para pemanjat pemula tersebut— kurang mengetahui bagaimana cara merawat sepatu. Padahal masalah merawat sepatu jenis ini tidak sesulit seperti yang kita kira.

Memang ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam masalah ini. Pertama, biasakan menyikat sepatu setelah dipakai. Proses penyikatan sebaiknya dimulai pada bagian atas dahulu baru kemudian ke bawah. Kenapa hal ini dilakukan, alasan yang paling masuk akal adalah karena setiap saat selesai latihan, kulit sepatu panjat biasanya cenderung kotor dan berdebu. Bila kotoran tersebut dibiarkan, maka kotoran tersebut akan mengendap pada kulit hingga mempercepat proses kerusakan dan lapisan sepatu menjadi mudah sobek.

Acara sikat-menyikat sepatu ini kemudian bisa diteruskan menyentuh bagian bawah sepatu, mulai dari rend hingga bagian sol. Hal ini dilakukan agar debu dan kotorannya berkurang. Bisa juga diteteskan air sedikit demi sedikit ke bagian sol-nya, agar permukaan sol bisa lebih terlihat bersih. Kemudian sikat sepatu secara perlahan hingga bersih. Usahakan jangan sampai kena bagian kulit dari sepatu panjat, karena hal tersebut akan mengurangi daya tahan bagian kulit sepatu.
Selanjutnya setelah disikat, usaplah sol sepatu panjat dengan kain yang kering. Usahakan jangan menjemur sepatu langsung terkena sinar matahari, karena akan merusak bahan sepatu. Mengeringkan sepatu yang baik, cukup diangin-anginkan saja sejenak hingga kering.

Kemudian bila sepatu dirasa sudah kering taruhlah sillica gel agar lembab sepatu berkurang. Bila tak ada sillica gel, masukan lembaran koran ke dalam sepatu sebagai penggantinya. Usahakan bila kita telah mencapai tempat tinggal kita, keluarkan sepatu dan biarkan tergantung terkena angin. Hal ini membuat sepatu bisa tetap dalam kondisi kering dan enak dipakai kembali nantinya.

Merawat sepatu panjat adalah salah satu perhatian kita terhadap keselamatan kita juga. Betapapun sederhana dan mudahnya, namun bila kita tidak mengindahkannya, percuma juga hasilnya. Mungkin cara yang paling tepat agar kita tak malas merawat sepatu adalah anggaplah merawat sepatu seperti kita merawat diri kita sendiri. (agam)

Tanpa Persiapan, Naik Gunung Tidak Bermakna

Oleh: Setia

BANYAK remaja sering mengisi waktu liburan dengan naik gunung. Namun, karena ketidak-tahuan, kegiatan fisik berat itu sering tidak disiapkan dengan baik. Padahal, mendaki gunung ditentukan oleh faktor ekstern dan intern, dan kebugaran fisik mutlak diperlukan.

Pendaki gunung legendaris asal Inggris, Sir George Leigh Mallory, kerap menjawab pendek pertanyaan mengapa ia begitu "tergila-gila" naik gunung. "Because it is there,"ujarnya. Jawaban itu menggambarkan betapa luas pengalamannya mendaki gunung dan bertualang. Selain jawaban itu, masih banyak alasan mengapa seseorang mendaki gunung atau menggeluti kegiatan petualangan lainnya.

Anggota-anggota Mapala Universitas Indonesia-kelompok pencinta alam tertua (bersama Wanadri Bandung) di Indonesia-contohnya. Mereka punya alasan lebih panjang dari Mallory. Dalam halaman awal buku pegangan petualangan yang dimiliki seluruh anggotanya tertulis, "Nasionalisme tidak dapat tumbuh dari slogan atau indoktrinasi. Cinta tanah air hanya tumbuh dari melihat langsung alam dan masyarakatnya. Untuk itulah kami naik gunung".

Yang jelas, tidak seorang petualang alam-komunitas di Indonesia lebih senang menggunakan istilah pencinta alam-melakukan kegiatan itu dengan alasan untuk gagah-gagahan. Karena bukan untuk gagah-gagahan, maka sebaiknya tidak ada istilah "modal nekad" dalam mendaki gunung.

Bagaimanapun, gunung dengan rimba liarnya, tebing terjal, udara dingin, kencangnya angin yang membuat tulang ngilu, malam yang gelap dan kabut yang pekat bukanlah habitat manusia modern. Bahaya yang dikandung alam itu akan menjadi semakin besar bila pendaki gunung tidak membekali diri dengan peralatan, kekuatan fisik, pengetahuan tentang alam, dan navigasi yang baik. Tanpa persiapan yang baik, naik gunung tidak bermakna apa-apa.

Secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya pendakian gunung. Pertama, faktor ekstern atau faktor yang berasal dari luar diri pendaki. Cuaca, kondisi alam, gas beracun yang dikandung gunung dan sebagainya yang merupakan sifat dan bagian alam. Karena itu, bahaya yang mungkin timbul seperti angin badai, pohon tumbang, letusan gunung atau meruapnya gas beracun dikategorikan sebagai bahaya objektif (objective danger). Seringkali faktor itu berubah dengan cepat di luar dugaan manusia.

Tidak ada seorang pendaki pun yang dapat mengatur bahaya objektif itu. Namun dia dapat menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan itu. Diri pendaki, segala persiapan, dan kemampuannya itulah yang menjadi faktor intern, faktor kedua yang berpengaruh pada sukses atau gagalnya mendaki gunung.

Bila pendaki tidak mempersiapkan pendakian, maka dia hanya memperbesar bahaya subyektif. Misalnya, bahaya kedinginan karena pendaki tidak membawa jaket tebal atau tenda untuk melawan dinginnya udara dan kencangnya angin.

Tidak bisa ditawar, mendaki gunung adalah kegiatan fisik berat. Karena itu, kebugaran fisik adalah hal mutlak. Untuk berjalan dan menarik badan dari rintangan dahan atau batu, otot tungkai dan tangan harus kuat. Untuk menahan beban ransel, otot bahu harus kuat. Daya tahan (endurance) amat diperlukan karena dibutuhkan perjalanan berjam-jam hingga hitungan hari untuk bisa tiba di puncak.

Bila tidak biasa berolahraga, calon pendaki sebaiknya melakukan jogging dua atau tiga kali seminggu, dilakukan dua hingga tiga minggu sebelum pendakian. Mulailah jogging tanpa memaksa diri, misalnya cukup 30 menit dengan lari-lari santai.

Tingkatkan waktu dan kecepatan jogging secara bertahap pada kesempatan berikutnya. Bila kegiatan itu terasa membosankan, dapat diselingi dengan berenang. Dua olahraga itu sangat bermanfaat meningkatkan endurance dan kapasitas maksimum paru-paru menyedot oksigen (Volume O2 maximum/VO2 max). Latihan push up, sit up, pull up sebaiknya juga dilakukan untuk memperkuat otot-otot.

Saking semangatnya, pendaki muda kerap kali ingin segera mencapai puncak, apalagi bila kegiatan itu dilakukan berkelompok. Persaingan untuk berjalan paling cepat, paling depan, dan menjadi orang pertama memijak puncak, sebaiknya ditinggalkan.

Mendaki gunung yang baik justru melangkah perlahan dalam langkah-langkah kecil dan dalam irama tetap. Dengan berjalan seperti itu, pendaki dapat mengatur napas, dan menggunakan tenaga seefisien mungkin. Bagaimanapun mendaki merupakan pekerjaan melelahkan. Selain itu, keindahan alam dan kebersamaan dalam rombongan, sering menggoda pendaki untuk banyak berhenti dan beristirahat di tengah jalan. Bila dituruti terus, bukan tidak mungkin pendakian malah gagal mencapai puncak. Karena itu, cobalah membuat target pendakian. Misalnya, harus berjalan nonstop selama satu jam, lalu istirahat 10 menit, kembali mendaki selama satu jam dan seterusnya. Lakukan hal ini hingga mencapai puncak atau hari telah sore untuk berkemah. Pada medan perjalanan yang landai, target waktu seperti itu dapat diganti dengan target tempat. Caranya, tentukanlah titik-titik target di peta sebagai titik beristirahat.

Buatlah jadwal rencana kegiatan sehingga waktu yang tersedia digunakan seefektif mungkin dalam bergiat di alam. Jadwal itu memungkinkan pendaki menghitung berapa banyak makanan, pakaian, peralatan harus dibawa, dan dana yang harus disiapkan. Jadwal itu antara lain mencakup keberangkatan, jadwal dan rute pendakian, kapan tiba di puncak, jadwal dan rute pulang, dan seterusnya. Jadwal pendakian perhari dapat lebih dirinci dengan berapa jam jatah pendakian, pukul berapa dimulai dan kapan berhenti serta seterusnya.

Untuk menghindari beban bawaan terlalu berat, hindari membawa barang-barang yang tidak perlu. Misalnya, cukup membawa baju dan celana tiga atau empat stel meski pendakian memerlukan waktu cukup lama. Satu stel pakaian dikenakan saat berangkat dari rumah hingga kaki gunung dan saat pulang. Satu stel sebagai baju lapangan saat mendaki. Satu stel yang lain sebagai baju kering yang digunakan saat berkemah. Rain coat dan payung dapat dicoret dari barang bawaan bila telah membawa ponco. Bila telah membawa lilin, cukup membawa batu batere seperlunya untuk menyalakan senter dalam keadaan darurat. Piring dapat ditinggal di rumah karena wadah makanan dapat menggunakan rantang memasak atau cangkir.

Bila barang perlengkapan telah terkumpul, masukkan semua ke dalam ransel. Jangan biarkan ada sejumlah barang seperti cangkir atau sandal diikat di lua ransel. Selain tidak sedap dipandang, risiko hilang selama pendakian, amat besar. Meski demikian, ada beberapa barang yang ditolerir bila ditaruh di luar ransel dan diikat dengan tali webbing ransel. Misalnya, matras karet dan tiang tenda. Namun, yakinkan, semua telah diikat dengan kencang.
Menaruh barang di dalam ransel amat berbeda dengan cara memasukkan buku-buku pelajaran dalam daypack (ransel kecil yang biasa digunakan ke sekolah).

Buku pelajaran, baju praktikum, kalkulator dapat kita cemplungkan begitu saja ke dalam daypack. Sebaliknya, barang-barang pendakian harus dimasukkan dalam ransel dengan aturan tertentu sehingga mengurangi rasa sakit saat memanggul dan menghindari ruang kosong dalam ransel.

Prinsip pengepakan barang dalam ransel.
1. Letakkan barang ringan di bagian bawah dan barang berat di bagian atas.
2. Barang-barang yang diperlukan paling akhir (misalnya peralatan kemping dan tidur), ditaruh di bagian bawah dan barang yang sering dikeluar-masukkan (seperti jaket, jas hujan, botol air) di bagian atas.
3. Jangan biarkan ada ruang kosong dalam ransel. Contoh, manfaatkan bagian dalam panci sebagai tempat menyimpan beras. Untuk itu, langkah pertama mengepak perlengkapan pendakian adalah mengelompokkan barang menurut jenis, seperti:
a. pakaian dan kantung tidur,
b. alat memasak,
c. tenda,
d. makanan.

Bungkus kelompok-kelompok barang itu dalam kantong-kantong plastik agar mudah dicari.
Sebagian besar pendaki menganggap, mengepak barang merupakan seni tersendiri dan kerap mengasyikkan. yunas santhani azis
Pengetahuan Dasar Pendaki Gunung

PARA pendaki gunung, harus memiliki pengetahuan dasar, menyangkut navigasi darat dan peta-kompas. Ini semua digunakan selama perjalanan di alam bebas. Selain itu, pendaki juga harus membawa sejumlah peralatan standar. Apa saja itu?
Dalam olahraga naik gunung, ada pengetahuan dasar khususnya menyangkut navigasi darat atau peta-kompas yang harus dimiliki seorang pendaki.

Peralatan navigasi standar yang harus dibawa saat mendaki gunung adalah peta, kompas, dan altimeter. Dalam arti populer, peta adalah representasi bentuk bentang bumi yang dicetak di kertas. Peta sendiri ada banyak ragamnya, sesuai keperluan. Namun peta yang bermanfaat bagi pendaki gunung adalah topografi, peta yang menggambarkan bentuk-bentuk dan kondisi permukaan bumi.

Dalam melihat peta, perhatikan skala atau perbandingan jarak dengan jarak sebenarnya. Skala peta dapat ditunjukkan dalam angka (misalnya 1:250.000) atau dalam bentuk garis. Untuk itu, jangan menggunakan fotokopi peta yang diperbesar atau diperkecil ukurannya. Selain membingungkan penghitungan jarak, pembesaran peta tidak menunjukkan akurasi relief bumi.

Ada baiknya, pendaki lebih dahulu mempelajari makna le-genda (simbol konvensional) dan kontur-garis penunjuk relief bumi-yang ada di peta. Penjelasan legenda selalu ada di bagian bawah peta. Dengan membaca kontur, dapat dibayangkan kondisi medan sebenarnya. Garis-garis kontur bersisian rapat menunjukkan medan yang curam, bila jarang berarti medannya landai. Lengkungan kontur yang menonjol keluar dari sebuah titik, menggambarkan punggung bukit atau gunung (ridge), sebaliknya adalah lembah. Di lembah-lembah seperti itu biasanya ada aliran sungai.

Ditambah kompas, peta merupakan alat untuk dapat menentukan posisi pendaki di gunung atau menunjukkan arah jalan. Teknik menggunakan variasi kompas dan peta dikenal dengan cross bearing, terbagi dalam resection (menentukan posisi kita di dalam peta) dan intersection (menentukan posisi satu tempat di peta).

Resection dilakukan dengan mula-mula mencari dua titik di medan sebenarnya yang dapat diidentifikasi dalam peta seperti puncak-puncak gunung. Kedua, hitunglah sudut (azimuth) kedua obyek tadi terhadap arah utara dengan kompas. Ketiga, pindahlah ke peta. Dengan menggunakan busur derajat, letakkan titik pusat busur derajat menghimpit titik identifikasi obyek dalam peta. Bila sudut azimuth yang diperoleh kurang dari 180 derajat, tambahkan azimuth itu dengan angka 180 derajat. Bila azimuth yang didapat dari kompas lebih dari 180 derajat, tambahkan dengan angka 180 derajat. Keempat, gunakan angka hasil perhitungan itu (dinamakan teknik back azimuth) untuk membuat garis lurus dari titik identifikasi. Perpotongan dua garis dari dua titik identifikasi menunjukkan letak kita di dalam peta.

Menentukan titik awal perjalanan di peta merupakan hal yang penting. Di tengah perjalanan, seorang pendaki kerap tidak dapat memainkan teknik cross bearing karena faktor cuaca atau medan yang tidak memungkinkan melihat titik-titik orientasi. Bila demikian, membandingkan keadaan medan sekitar dengan kontur peta dan merunutnya dari titik awal perjalanan, kadang menjadi satu-satunya cara menentukan posisi. Dalam keadaan seperti itu, altimeter atau piranti penunjuk ketinggian sangat dibutuhkan.

Saat ini fungsi kompas dan altimeter dapat diganti dengan GPS (Global Positioning System/piranti canggih menggunakan sinyal satelit). Dengan alat itu, pendaki dapat mengetahui kedudukannya dalam lintang dan bujur (koordinat) bumi. Pemakainya tinggal mencari besaran koordinat di peta. Bahkan GPS model mutakhir dapat menyimpan rekaman gambar peta melalui CD-Rom. Dengan begitu, pendaki bisa mengabaikan peta karena peta sekaligus tersaji di layar monitornya.

Dalam mendaki gunung atau menjelajah alam, pelaku juga harus memasak, makan, tidur, dan membersihkan diri. Semua dilakukan sendiri. Untuk itu, pendaki tidak dapat menghindari barang bawaan yang relatif banyak dan berat. Perlengkapan apa saja yang diperlukan untuk pendakian? Perlengkapan seorang pendaki berupa sepatu, baju dan celana, jaket, ponco atau rain coat, dan ransel.
1. Sepatu mendaki yang baik selain melindungi kaki dari luka, juga harus nyaman saat dipakai meski membawa beban berat di medan licin, berbatu-batu, dan curam. Jenis sepatu boot paling cocok untuk kegiatan ini, karena melindungi pergelangan hingga mata kaki dari kemungkinan terkilir. Pilihlah sol sepatu dengan kembang besar, ceruk yang dalam dan memiliki tumit. Sol seperti ini memungkinkan pemakai dapat mencengkeram permukaan meski kondisinya ekstrim (curam, licin, atau berbatu-batu).

2. Pakaian ideal saat mendaki di gunung tropis adalah yang relatif tebal dan menyerap keringat, celana yang tidak kaku dan ringan guna melindungi kaki dari goresan duri. Baju dari katun atau wool cukup ideal. Sayang bila telah basah, katun tidak mampu menghangatkan badan. Baju dari bahan sintetis semisal polyesters dan acrylics sedikit menyerap keringat tetapi cepat kering. Sementara bahan nilon sebaiknya tidak digunakan karena tidak menyerap keringat sehingga keringat akan tetap menempel di badan. Sebaliknya, nylon amat baik menahan hujan, sehingga banyak digunakan sebagai ponco.
Saat mendaki, hindari pemakaian pakaian berbahan jeans. Bahan ini sukar kering dan berat saat basah. Bila mendaki medan yang dirimbuni pepohonan atau semak tinggi, di mana terpaan angin tidak kencang, hindari mengenakan jaket saat berjalan. Selain menahan keringat menempel di badan, jaket juga membuat tubuh merasa gerah karena selama berjalan suhu tubuh meningkat akibat pembakaran zat makanan untuk menghasilkan energi.

Pada saat istirahat, di sela pendakian, pembakaran berkurang. Dinginnya temperatur di pegunungan dan hembusan angin maka pendaki akan menghadapi perbedaan drastis temperatur. Oleh karena itu, saat beristirahat, sebaiknya pendaki mengenakan jaket atau sweater tebal. Bila beristirahat saat hujan, sebaiknya mengganti baju jalan yang basah dengan baju kering.

3. Jaket sebaiknya digunakan menahan dingin di puncak atau di lokasi kemping saat akitivitas tidak segiat saat berjalan. Pilihlah jaket yang berbahan isian (down jacket). Jaket jenis ini cukup tebal dan penahan dingin yang baik. Kelemahannya, relatif berat dan memakan banyak tempat dalam ransel. Jaket lain sebaiknya dibawa adalah yang memiliki dua lapisan (double layer). Lapisan dalam biasanya berbahan penghangat dan menyerap keringat seperti wool atau polartex, sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan angin.
Kini, teknologi tekstil sudah mampu memroduksi Gore-tex, bahan jaket yang nyaman dipakai saat mendaki. Bahan itu memungkinkan kulit tetap "bernapas", tidak gerah, mengeluarkan uap keringat, mampu menahan angin (wind breaking) dan resapan air hujan (water proof). Sayang, bahan ini masih mahal, rata-rata berharga di atas Rp 1 juta.

4. Ransel. Perlengkapan vital pendakian lainnya adalah ransel. Kini banyak jenis ransel-terutama berangka dalam-dijual di pasaran. Fungsi rangka selain menyangga badan ransel tetap tegak, mencegah barang di dalamnya bergeser, dan menjaga jarak antara punggung pemakai dari ransel. Akibatnya, barang-barang keras yang dibawa tidak menyakitkan. Ransel yang baik dilengkapi tali pengatur sabuk penggendok atau sandang bahu, sandang pinggang, atau sabuk pinggang.

Sabuk dan tali pengatur itu akan membuat pemakainya nyaman memanggul ransel beserta isinya. Bila pendaki ingin membawa barang bawaan ke bahu dan punggung, kencangkan tali pengatur sandang bahu dan longgarkan sabuk pinggang. Sebaliknya, bila beban ingin ditopang punggung dan pinggang, kencangkan tali sabuk pinggang dan kendorkan tali sandang bahu. Ransel berdisain baik, bila rangka bagian bawah, saat dipakai, ada di sekitar pinggang sedang lengkungan rangka atas sesuai lengkungan tulang punggung pemakai.

Ransel yang memiliki beberapa kantung di penutup atau badan, memiliki banyak keuntungan. Barang-barang kecil seperti botol air minum, jaket, atau kamera yang sering dikeluar-masukkan selama pendakian, dapat ditaruh di situ. Dengan demikian, pendaki tidak perlu membuka-tutup dan mengacak-acak isi ruang utama ransel.
Oleh karena itu, pilihlah ransel berbahan nilon atau kanvas. Nilon selain kedap air juga ringan. Sebaliknya, kanvas relatif berat terutama pada waktu basah. Akan tetapi, kanvas lebih kuat terhadap goresan.
penulis : Yunas Santhani Azis
(sumber : kompas)


E-mail Pengirim: Setia714@ekilat.com Tanggal: 4/2/2002 12:07:14 PM

Perlengkapan Dalam mendaki gunung

Oleh: Yunas / Gappala14

Perlengkapan Dalam mendaki gunung atau menjelajah alam pelaku juga harus
-memasak,
-makan,
-tidur dan
-membersihkan diri,

semua dilakukan sendiri, untuk itu pendaki tidak dapat menghindari barang bawaan yang relatif banyak dan berat. Perlengkapan apa saja yang diperlukan untuk pendakian ? Perlengkapan seorang pendaki berupa sepatu, baju, celanan,jaket,ponco atau rain coat dan ransel.

1. Sepatu
Sepatu mendaki yang baik selain melindungi kaki dari luka, juga harus nyaman saat dipakai mesti membawa beban berat dimedan licin, berbatu-batu dan curam, jenis sepatu boot paling cocok untuk kegiatan ini, karena melindungi pergelangan kaki hingga mata kaki dari kemungkinan terkilir. Pilihlah sol sepatu dengan kembang-kembang besar, ceruk yang dalam dan memiliki tumit sol seperti ini memungkinkan pemakai dapat mencengkram permukaan meski kondisinya ekstrim (curam, licin atau berbatu-batu)

2. pakaian
Pakaian yang ideal saat mendaki di gunung tropis adalah yang relatif tebal dan menyerap keringat , celana yang tidak kaku dan ringan guna melindungi kaki dari goresan duri, baju dari katun atau wol cukup ideal. Sayang bila telah basah, katun tidak mampu menghangatkan badan, baju dari bahan sintetis misalnya polyester dan acrylics sedikit menyerap keringat tetapi cepat kering, sementara bahan nilon sebaiknya tidak digunakan karena tidak menyerap keringat sehingga keringat akan tetap menenpel pada badan, sebaliknya nylon amat baik menahan hujan sehingga banyak digunakan sebagai ponco. hindari pemakaian pakaian berbahan jeans. Bahan ini sukar kering dan berat disaat basah , bila mendaki medan yang dirimbuni pepohonan atau semak tinggi dimana terpaan angin tidak kencang, hindari pemakaian jakat saat berjalan, selain menahan keringat yang menempel di badan jaket juga membuat tubuh terasa gerah karena selama berjalan suhu tubuh meningkat akibat pembakaran zat makanan untuk menghasilkan energi. Pada saat istirahat disela pendakian, pembakaran berkurang, dinginya temperatur di gunung dan hembusan angin maka pendaki akan menghadapi perbedaan draktis temperatur oleh karena itu saat beristirahat sebaiknya pendaki mengunakan jaket atau sweater tebal, bila beristirahat saat hujan sebaiknya menganti baju yang basah dengan baju yang kering.

3. Jaket
Jaket sebaiknya digunakan untuk menahan dingin di puncak atau lokasi kemping saat aktifitas tidak segiat saat berjalan, pilihlah jaket yang berbahan isian (down Jaket) jaket jenis ini cukup tebal dan menahan dingin yang baik, kelemahannya relatif berat dan memakan banyak tempat dalam ransel, jaket lainnya sebaiknya dibawa adalah yang memiliki dua lapisan (double layer) lapisan dalam biasanya berbahan penghangat dan menyeyerap keringat seperti wool atau polartex, sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan dingin. Kini teknologi tekstil sudah mampu memproduksi Gore-Tex bahan jaket yang nyaman dipakai saat mendaki bahan ini memungkinkan kulit tetap bernafas, tidak gerah mengeluarkan keringat mampu menahan angin (wind breaking) dan resapan air hujan (water proff) sayang, bahan ini masih mahal.

4. Ransel
(carier bag) Perlengkapan vital pendakian lainnya adalah ransel. kini banyaknya jenis ransel terutama berangka dalam dijual dipasaran fungsi ranga selain menyangga badan ransel tetap tegak mencegah barang didalamya bergeser dan menjaga jarak antara punggung pemakai dari ransel. Akibatnya barang-barang yang keras yang dibawa tidak menyakiti, ransel yang baik dilengkapi tali pengatur sabuk pengendok atau sandang bahu, sandang pinggang atau sabuk pinggang. Sabuk dan tali pengatur itu akan membuat pemakainya nyaman memanggul ransel beserta isinya. Bila pendaki ingin membawa barang bawaan ke bahu dan punggung, kencangkan tali pengatur sandang bahu dan longgarkan sabuk pinggang sebaliknya, bila beban ingin di topang punggung dan pinggang , kencangkan tali sabuk sandang bahu, ransel berdesain baik, bila rangka bagian bawah saat dipakai ada disekitar pinggang sedangkan lengkungan rangka atas sesuai lengkungan tulang punggung pemakai. Ransel yang memiliki beberapa kantung penutup atau badan memiliki banyak keuntungan. Barang-barang kecil seperti botol air minum, jaket atau kamera yang sering dikeluar-masukkan selama pendakian dapat ditaruh disitu, dengan demikian pendaki tidak perlu membuka-tutup dan mengacak-acak isi ruang utama ransel, kekurangan pada ransel yang berkantung banyak akan mengurangi keseimbangan ransel tersebut bila dibawa. Oleh karena itu pilihlah ransel berbahan nilon atau kanvas , nilon selain kedap air juga ringan terutama sewaktu basah, akan tetapi kanvas lebih kuat terhadap goresan .


Bagi pendaki gunung peralatan yang diperlukan untuk olahraga jelajah alam ini tidak hanya ransel, baju, mantel dan ponco, masih ada sejumlah peralatan yang harus dibawa dan disiapkan, apabila kalau pendakian memakan waktu beberapa hari,

berikut ini diberikan sejumlah catatan mengenai peralatan apa saja yang perlu dibawa :

Perlengkapan berkemah Pada saat mendaki gunung memerlukan waktu beberapa hari, mau tidak mau perjalan harus "dibagi " dalam beberapa tahap setiap tahap selalu memerlukan tempat , waktu dan sarana untuk beristirahat.


Tempat istirahat ini juga diperlukan bila pendaki sudah mencapai tempat yang dituju, untuk itu, mau tidak mau pendaki harus menbangun kemah, cara berkemah yang paling aman dan nyaman bila mengunakan tenda sekarang ini banyak ragam tenda dari tenda prisma, piramid atau kubah (dome).

Tenda dome belakangan ini lebih banyak digunakan karena mudah dan praktis penggunan maupun saat dibawa, karena tenda dome tidak memerlukan banyak tali dan pasak, untuk mendirikan tenda kubah/dome hanya diperlukan dua rangka utama, untuk itu pilihlah rangka yang terbuat dari alumunium karena lebih baik, ringan dan lentur dibandingkan yang terbuat dari mika.

Peralatan penting lainnya adalah kantung tidur (slepping bag) usahakan kantung tidur tetap dalam keadaan kering, untuk itu jemurlah disiang hari pada saat berkemah. Perlengkapan Memasak. Selama berkemah, pendaki juga harus menyiapkan makanan, untuk itu beberapa jenis kompor ringan dan ringkas dapat dipilih untuk memasak di alam terbuka, kompor yang paling irit terbagi atas beberapa macan seperti kompor dengan bahan bakar padat (Parapin) atau kompor dengan tabung gas berukuran 250 gram dengan tungkai gas yang dapat di bawa dengan mudah, pilihan terakhir mungkin adalah kompor dengan bahan bakar minyak tanah atau lebih dikenal kompor tahu, kompor ini juga mudah dan ringkas untuk dibawa sebab antara tiang sumbu dan tiang penyangga dapat dipisahkan dari bagian tangki bahan bakar.


Namun dengan catatan minyak tanah harus dipisahkan/dikeluarkan dari tabung tangki dan disimpan dalam jerigen atau botol khusus. Selain kompor dua buah panci kecil alumunium atau baja tahan karat cukup untuk memenuhi kegiatan masak-memasak. Satu set panci yang paling praktis dan murah dibawa adalah nesting, set panci yang biasa dijual ditoko perlengkapan militer. Nesting dapat berbentuk kotak atau bulat terdiri dari atas dua panci berukuran sedang dan satu panci pipih yang dapat digunakan sebagai piring atau wadah pemotong bahan-bahan masakan.

Bawalah sendok, cangkir dan piring dari melamin atau plastik, bahan ini sukar pecah, mudah dibersihakan dengan sedikit air dan tisue, bila membawa korek api simpanlah dalam tabung film kaera agar tidak basah dan lembab.

Makanan (logistik).
Makanan yang dibawa seharnya dapat memenuhi kebutuhan energi pendaki, selama pendakian seseraoang membutuhkan sitar 5.000 kalori dan 100 gram protein, kalori dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi nasi. Namin aada bainnya hanya memakan nasi satu kali sehari di kala malam (saat berkenah) alanayanya beras realtif berat dan memerluakan waktu yang lama untu memasak serta menghabiskan banyak bahan bakar. Fungsi beras dapat diganti dengan roti, biskuit,coklat, dan hevermit. Hal yang perlu diperjatikan hinadri mengkonsumsi makanan yang harus dimasak lebih dahulu selama mendaki, karean hal ini hanya akan merepotkan dan menghabiskan waktu perjalanan. Pilihlah makanan praktis seperti coklat, roti, agar-agar,buah-buahan, dapat juga dibuat mixfood yang terdiri atas kacang, colat, biskuit dan kismis. Umumnya makanan yang paling praktis dibawa adalah makanan awetan yang memiliki kemasan, buaglah kemasan karton sebelum dimasukan dalam ransel dengan demikian berat ransel dapat berkurang dan kmakanan yang dibawa opun tidak banyak memakan tempat didalam ransel. Peralatan lain . Selain peralatan dan sejumlah perlengkapan, jangan lupa membawa perlengkapan kecil yang terdanag dirasa sepele, namun amat penting. Perlengkapan itu berupa obat-obatan seperti pelester, oabat merah, tisu basah dan ekring, senter, benang, jarum jahit, jam dan alat tulis. Peralatan itu terkanad dibutuhkan dalam keadaan darurat atau menjaga tubuh tetap bersih. Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah jangan lupa membawa tas / kantong plastik , tas plastik tersebut dibutuhkan untuk menarus barang-barang yang kotor dan basah sebelum dicuci dan tas plastik juga berfungsi untuk membawa kembali sampah-sampah pendakian, sampah-sampah sisa makanan atau berkemah, janganlah dibuang begitu saja di alam terbuka selain megotori, membuang sampah dapat menyulitkan usaha pencarian dan pertolongan bagi pendaki yang tersesat atau mengalami kecelakaan, kerap kali usaha pencarian oarang tersesat terbantu dengan petunjuk dari barang0barang yabf tercecer jangan mengangap segala peralatan dan smpah akan membebani perjalaan, seorang mungkin saja dapa belajar mnayalajan api darimranting kayu, mencari makan denga jerat arau menimbun sampah digunumg akantetapi penaki gunung yang juga pencinta alam selalau berperinsip leave nothing but footprint, take nothing but picture, kill nothing but time. Selamat mendaki By : Yunas Editing : Yan

http://www27.brinkster.com/gappala/indexjual.asp

Sebelum Memasuki Wilayah "Asing"

Akibat persiapan yang kurang matang, pendaki sering mengalami kepanikan ketika berhadapan dengan kondisi tertentu," tegas Perdana, anggota MAPALA UI. Hal ini jelas membahayakan, karena lingkungan gunung merupakan wilayah "asing" yang kadang tak kita kenal sama sekali.

Makanya, persiapan mendaki gunung jadi penting. Persiapan yang mesti dilakukan antara lain berupa latihan fisik dan mental, persiapan perlengkapan pendakian, dan pemahaman "ilmu" mendaki gunung. Simak cerita Ferdian, pencinta alam SMU 5 Bandung tentang pengalamannya berikut;

"Gue pernah tersesat. Entah kenapa, jalannya muter-muter aja di situ. Pernah juga naik Gunung Guntur (2248 mdpl), tiba-tiba hujan. Sementara gue lupa bawa tenda. Akhirnya bikin tenda darurat dari jas hujan. Pokoknya setiap naik gunung, selalu aja ada kejadian aneh yang gue alami," tutur Ferdian.

Kisah ini menunjukkan bahwa mendaki gunung tak seperti mau pergi ke mal. Butuh persiapan matang. Antara lain latihan fisik yang dilakukan dengan porsi benar. Seperti jogging yang dilakukan sekitar 30 menit dan dilakukan secara teratur, minimal seminggu dua kali. Tujuannya adalah untuk melatih daya tahan jantung dan paru-paru. Melatih paru-paru gunanya agar pendaki memiliki kapasitas VO2 Max yang memadai. Peregangan otot tubuh, terutama kaki juga penting. Karena pada saat mendaki gunung semua otot mengalami kontraksi.

Pencinta alam Canimount (Kolese Kanisius) bahkan membuat jadwal teratur. "Di Canimount, fisik dan mental nomor satu. Karena di gunung, kita sering dihadapkan pada kondisi yang drastis sekalipun. Maka fisik dan mental menjadi prioritas," kata Aldo Henry, Ketua Canimount.

"Ilmu" mendaki gunung tak kalah penting. Pelajaran semacam membaca peta dan kompas hukumnya wajib. Alat-alat navigasi tersebut dipakai untuk menghindar dari disorientasi medan. Selain itu, kata Antonius yang anggota WANADRI, seorang pendaki juga mesti belajar survival. Menurutnya, survival memberi "ilmu" hal-hal apa saja yang bisa dilakukan dalam kondisi darurat, seperti tumbuhan apa saja yang bisa disantap. Kedua "ilmu" ini biasanya terdapat pada pelatihan dasar pendaki gunung.
Selanjutnya, persiapan peralatan dan perbekalan adalah bagian lain yang sama perlu disiapkan. Peralatan dan perbekalan yang perlu dibawa antara lain:

* Ransel: Ransel yang baik terbuat dari bahan parasut. Semua peralatan dan perbekalan sebaiknya bisa masuk semuanya ke ransel. Periksa juga apakah ada bagian yang robek atau jahitan yang lepas.

* Kantung tidur: Kantung tidur (sleeping bag) berfungsi untuk menghilangkan rasa dingin, sekaligus agar tubuh kita bisa kembali normal, setelah bangun tidur.

* Jaket: Jaket yang baik untuk pendakian adalah yang memiliki lapisan penghangat. Yang berbahan jeans atau kain tidak disarankan.

* Sepatu: Sepatu mendaki umumnya bermodel tinggi dan menutup engkel kaki. Sedangkan sol sepatu yang pas adalah yang cukup tebal.

* Pakaian: Bawa pakaian secukupnya dan yang baik adalah terbuat dari bahan campuran katun dan sintetis. Selain mudah menyerap keringat, juga lekas kering jika terkena keringat atau air hujan.

* Ponco: Fungsinya adalah untuk melindungi tubuh dari hujan. Tapi ada juga baju hujan (rain coat) khusus yang tak merepotkan gerakan pendaki. Ponco juga bisa dimanfaatkan untuk tenda darurat.

* Topi: Topi buat pendaki ada dua jenis. Jenis pertama, topi rimba yang berfungsi untuk mengindar dari sengatan Matahari. Jenis kedua adalah balaclava yang bisa dipakai untuk menutup kepala saat dingin.

* Tempat air: Bagi pendaki berpengalaman, biasanya memisah antara tempat air untuk minum dan untuk membawa air cadangan buat memasak. Tentu saja tempat air cadangan harus lebih besar dan sebaiknya tak membawa jeriken yang lebih susah dimasukkan ke ransel.

* Peralatan makan dan memasak: Selain membawa piring, sendok, dan garpu, juga penting membawa kompor kecil yang mudah dibawa dan rantang susun yang fungsinya bisa juga dipakai sebagai piring.

* Peralatan mandi: Banyak pendaki yang ogah mandi ketika melakukan perjalanan. Padahal hal ini penting untuk membersihkan diri dan menyegarkan badan. Termasuk gosok gigi.

* Tenda: Tenda dome yang mudah dibawa dan dipasang sangat disarankan. Tenda ini juga cukup praktis, karena sudah dilengkapi dengan alas dan bisa memuat antara 2-4 orang (tergantung besarnya).

* Lampu senter: Cukup membantu penerangan di malam hari. Cari saja yang kedap air dan siapkan beberapa baterai serta lampu cadangan.

* Kompas dan peta: Agar tak menyasar ke mana-mana, alat ini wajib dibawa. Sekalipun kita sudah akrab betul dengan medan. Faktor alam yang serba tak pasti bisa saja justru membuat kita tersesat. Kompas dan peta adalah "teman" untuk mengarahkan perjalanan.

* Makanan: Dulu, mi instan dianggap jadi makanan wajib para pendaki. Belakangan, justru banyak yang mengganti dengan makanan lain yang lebih mudah diserap saluran pencernaan. Sebaiknya juga makanan yang mengandung energi tinggi.

Jumat, 25 Oktober 2002

Mendaki Gunung Itu Nikmat

Mendaki Gunung Itu Nikmat
SH/AdisenoPehobi mendaki di Alp Jepang.

Jakarta – Banyak orang masih bertanya-tanya sampai sekarang,” Apa sih enaknya naik gunung?” Badan capai, dingin, lapar, dan bisa mati juga. Seperti orang kurang kerjaan saja. Tapi, sebenarnya kalau kita tahu trik-trik dalam pendakian gunung. Kegiatan ini ternyata bisa juga dinikmati dan aman-aman saja selama kita tahu batas kemampuan diri sendiri.

Pertama kali yang harus di ketahui dalam perjalanan pendakian gunung adalah bagaimana teknik berjalan. Tentu agak aneh juga kedengarannya. Setiap orang yang punya kaki dan tidak lumpuh pasti bisa berjalan, terus apalagi yang harus dipelajari?

Keseimbangan.
Inilah jawaban mengapa kita wajib belajar lagi tentang teknik berjalan di gunung. Di sana, cara berjalan kita tak sama seperti saat kita berjalan di jalan-jalan perkotaan. Di gunung kita harus membawa banyak beban di punggung kita. Kemudian ditambah faktor medan perjalanan yang kadang harus mendaki punggungan-punggungan gunung yang curam, atau melintasi lembah panjang tak bertepi, bahkan kadang-kadang menuruni ceruk-ceruk dalam yang teramat kelam pada akhirnya. Dengan situasi medan seperti itu ditambah dengan beban berat di punggung, maka faktor keseimbangan tubuh adalah mutlak untuk dipelajari.

Maka itu diperlukan harmoni untuk mencapainya. Aturan napas dan gerak langkah haruslah seirama satu sama lainnya. Seperti juga dalam sebuah orkes simfoni, keterpaduan antara pengaturan permainan napas yang disingkronkan dengan gerak langkah yang tidak kaku menjadi sebuah harmonisasi nada tersendiri. Dan jadikan gerak melangkah dalam perjalanan itu sebuah seni tersendiri.

Memang benar ada beberapa prinsip dalam berjalan yang harus dituruti. Seperti melangkahlah dengan langkah-langkah kecil saja. Sebab langkah yang terlalu lebar membuat beban yang dibawa menjadi hanya bertumpu pada satu kaki saja, sehingga membuat keseimbangan kaki menjadi gampang goyah. Selain itu keuntungan lain yang didapat dengan melangkah kecil-kecil adalah membuat napas lebih mudah diatur. Hal ini berdampak langsung pada sistem penghematan tenaga yang terbuang.

Memang efek samping yang paling kentara dari berjalan dengan langkah kecil ini adalah melambatnya irama jalan. Tapi itu lebih baik adanya daripada berjalan cepat-cepat tapi banyak istirahat yang dibutuhkan. Sedangkan parameter yang dapat dijadikan pegangan untuk mengetahui sampai batas seberapa kita melebihi irama jalan adalah saat kita mulai merasa sulit berbicara dengan rekan seperjalanan. Ini biasanya disebabkan karena irama napas yang mulai tidak teratur dan hal tersebut menjadi tanda bahwa berarti kita berjalan terlalu cepat.

Teknik Istirahat
Buat seorang pehobi mendaki gunung berpengalaman, berjalan terus-menerus selama dua sampai tiga jam tanpa istirahat bukanlah berat. Tingginya jam jalan dan latihan yang terus-menerus membuat stamina dan kekuatan seperti itu bisa diperoleh. Buat ukuran kita, para awam dapat berjalan satu jam terus-menerus dengan diselingi istirahat selama sepuluh menit adalah wajar.

Saat istirahat juga banyak faktor yang harus diperhatikan. Seperti, duduklah dengan kaki menyelonjor lurus ke depan. Karena hal ini dapat melancarkan kembali aliran darah yang sebelumnya hanya terpusat ke kaki. Usahakan cari tempat yang tidak terlalu berangin, karena angin dapat mengerutkan otot yang sedang beristirahat tersebut. Minum air yang berenergi dan bukalah sedikit makanan ringan yang kita bawa, untuk mempercepat proses recovery pada tubuh.

Pendapat yang mengira bahwa meneguk minuman keras di gunung itu baik adalah salah adanya. Memang kehangatan bisa kita dapat dari minuman tersebut tapi pembuluh darah dalam kulit menjadi mengembang dan memberi kesempatan udara dingin masuk ke dalam tubuh. Kehangatan sesaat yang kita terima tidak seimbang dengan akibat setelahnya, yaitu kedinginan dalam jangka waktu lama. Lagipula tak baik bila meminum minuman keras bila sedang dalam berjalan di gunung, selain bisa mengakibatkan mabuk yang bisa berdampak bahaya untuk si pendaki sendiri.

Atur waktu istirahat, jangan terlalu lama juga. Selain sayang pada otot-otot kaki yang sudah memanas dan kencang menjadi mengendur karena kelamaan istirahat. Tapi, bila dirasakan Anda memerlukan istirahat lebih lama dari biasanya itu pertanda Anda berjalan terlalu cepat. Dan bila tiba-tiba tiap setengah jam atau kurang Anda merasa membutuhkan istirahat itu berarti pertanda tubuh kita sudah terlalu lemah dan lelah.

Masalah kelelahan ini haruslah dipertimbangkan masak-masak. Bila hal ini terjadi tak jauh dari puncak tempat tujuan mungkin kita bisa memaksakan untuk mencapainya. Tapi, bila terjadi di tengah perjalanan dan puncak tempat tujuan kita masih terasa jauh dari depan mata lebih disarankan mengambil istirahat panjang, kalau perlu dirikan tenda untuk beristirahat.Memilih lokasi istirahat juga harus memperhatikan banyak hal. Pilihlah lokasi istirahat yang memiliki pemandangan indah, karena paling tidak secara psikologis menikmati pemandangan dapat mengurangi perasaan lelah yang timbul selama dalam perjalanan. Makan dan minum secukupnya, kalau perlu dimasak dahulu agar hangat dan segar. Baik juga kalau kita memakan sedikit garam untuk menghindari keram.

Medan Selanjutnya yang perlu diperhatikan saat berjalan di gunung adalah memperhatikan betul medan yang akan kita tempuh. Medan yang berumput dan terjal kadang membahayakan, apalagi saat basah karena hujan atau embun pada pagi hari. Bila kita tak berhati-hati melewatinya, tergelincirlah akibatnya. Apalagi bila kita memakai sepatu yang tidak mempunyai sol ber-‘kembang’ yang layak. Sama juga seperti pada medan yang berlumpur dan becek, cenderung licin dan berbahaya. Di daerah yang penuh kerikil dan batu-batu tajam disarankan berhati-hati dan tidak bertindak ceroboh. Tidak berbeda juga di saat kita menemui daerah dengan batu-batu besar seperti saat di sungai. Kalau bisa melompat dari satu batu ke batu lainnya lebih disarankan. Tapi ini memerlukan kecepatan gerak dan ketepatan dalam melangkah, karena kadang batu tempat kita berpijak sudah bergulir saat kita akan pindah ke batu yang lain. Faktor kelelahan dan pengalaman juga bisa menjadi acuan bila ingin meloncat-loncat seperti ini. Bila kita sudah terlalu lelah cara yang paling aman adalah dengan menaiki satu per satu batu-batu tersebut dan memeriksa dahulu batu-batu yang akan dipijak agar tidak bergulir nantinya. Lain lagi bila menemui daerah dengan karakter berpasir. Berjalan mendaki di daerah seperti ini lebih sukar daripada berjalan di atas tanah keras. Setiap kali dua kali melangkah ke atas tanah akan melorot ke bawah sebanyak satu langkah. Kadang-kadang perlulah menyepakkan kaki agar tanah memadat dan tidak melorot lagi. Bila kita menjadi orang kedua kita bisa mempergunakan jalur yang pernah dilalui orang pertama, hal ini bisa menghemat tenaga karena tanah berpasir bekas jejak menjadi lebih padat dan keras.Juga jangan cepat percaya pada pepohonan kecil-kecil yang berada di pinggir-pinggir tebing. Seringkali pohon tersebut tak cukup kuat untuk menahan tubuh kita, sehingga gampang tercabut saat kita memakainya untuk menahan bobot badan. Pakailah pohon-pohon tersebut hanya sebagai keseimbangan saja.Jangan terburu-buru mengambil keputusan memotong lintasan yang sudah ada. Memang kadang lintasan tersebut terasa jauh bila kita melewatinya. Tapi percayalah, hal tersebut biasanya dikarenakan faktor mengikuti bentukan alam yang ada di daerah tersebut. Memang itu adanya jalur yang terbaik. Juga biasanya jalur-jalur memotong itu lebih sulit adanya, lebih baik jalan sedikit melingkar tapi dapat menghemat tenaga daripada mengikuti lintasan memotong tapi terkuras tenaga. Jadi, patut diulang lagi. Ucapan-ucapan yang mengatakan bahwa naik gunung itu susah adalah bohong belaka. Ternyata kita bisa menikmatinya, dan bahaya-bahaya yang timbul di sana sebenarnya bisa diminimalkan dengan cara meningkatkan pengetahuan tentang kegiatan tersebut. Dan dengan menjadikan sebuah perjalanan menjadi sebuah seni adalah cara tersendiri dalam menikmati ciptaan-Nya. (sulung prasetyo s)