Minggu, 21 Desember 2008

Bersepeda Bersama Bayi: Gendong atau Bonceng?

Ketika saya terpaksa harus vakum bersepeda karena mengandung anak pertama, sedih juga rasanya. Tentu saja aktivitas bersepeda termasuk yang tidak dianjurkan bagi ibu hamil, terlebih untuk kehamilan bermasalah. Saya termasuk kategori ini; pemeriksaan menunjukkan ari-ari janin saya menutupi jalan lahir (istilah medisnya: placenta previa). Kondisi ini rentan akan pendarahan. Maka, demi kebaikan diri saya dan janin, saya harus ekstra hati-hati menjaga kondisi badan.

Agak ngiri juga ketika dengar cerita teman-teman yang selalu bawa oleh-oleh cerita tentang perjalanan mereka. Dalam hati, "Kalau anak saya lahir dan sudah cukup besar, saya pasti akan bawa anak saya cross country juga." Tapi pertanyaannya kemudian, model tumpangan anak batita (bawah tiga tahun) seperti apa yang baik dan aman untuk turut bersepeda bersama orang-orang dewasa ini?

Saya pun mencoba mencari jawabnya. Sejauh pengalaman saya, ada beberapa pilihan yang bisa dipertimbangkan:

Gendongan anak berupa ransel



Kelebihannya: posisi anak aman, terutama karena posisinya yang hampir bisa dikatakan "melekat" pada pengendara sepeda. Si pengendara bisa mengontrol dan selalu bisa merasakan "alarm dini" jika si anak dalam posisi yang membahayakan, misalnya jika si anak meronta karena ketidaknyamanan letak dudukannya atau ketidaknyamanan lain yang ia rasakan. Faktor keamanan lain adalah tersedianya sabuk pengaman di dalam kompartemen ransel anak itu. Sabuk pengaman biasanya ada dua; pertama, yang menahan pinggul atau pinggang anak (menyerupai sistem seat belt di kendaraan roda empat pada umumnya); kedua, yang menahan tubuh bagian depan anak. Sabuk kedua akan mengalungi anak dari bagian atas kepala ke arah tubuh depannya (tujuan titik perlindungan adalah kedua bahu dan dada). Buckle (kunci klip) terdapat di bagian perut. Karena faktor kelekatan sebagaimana disebut di atas, guncangan yang dirasakan anak akan terlebih dahulu diminamilisir oleh pengendara sepeda, semacam self-control dari pengendara sepeda. Di sisi lain, respon si anak akan cenderung menyelaraskan gerakan yang ditimbulkan pengendara sepeda. Situasi ini juga akan merangsang kepekaan anak pada keseimbangan tubuhnya sendiri.

Kekurangannya: tidak nyaman bagi si pengendara sepeda jika jarak tempuh cukup jauh, karena seluruh beban anak bertumpu padanya. Walaupun sesungguhnya ransel semacam ini sudah dirancang agar pembagian titik beban bisa disesuaikan, tidak terpusat pada satu titik saja; misalnya dengan mengencangkan sabuk di bagian pinggang agar beban di bahu kiri dan kanan berkurang. Sedikit mengurangi keleluasaan si pengendara sepeda untuk melakukan manuver. Tentu karena si anak dapat kapan saja merasa kegirangan dan melonjak-melonjak apabila sepeda melalui jalan yang berguncang atau rute sliding /menurun. Respon anak dapat mudah sekali mempengaruhi kestabilan berkendara. Di awal -atau malah sepanjang- perjalanan, si anak akan sangat merasa ingin tahu keadaan sekitar, termasuk pemandangan di muka. Jika pengendara sepeda yang menggendongnya dirasa menutupi pandangan, secara otomatis ia akan berusaha dengan memiringkan badannya, hingga mencapai sudut yang paling ekstrem. Hal ini potensial membahayakan dirinya dan si pengendara.

Boncengan sepeda

Ini pun ada dua opsi, apakah Anda ingin meletakkan boncengan di depan atau di belakang Anda. Kelebihan boncengan sepeda di depan pengendara: anak dapat leluasa melihat jalur sepeda dan pemandangan di hadapannya. Si pengendara sepeda lebih merasa tenang karena si anak selalu dalam pengawasannya. Kekurangannya: posisi anak akan sedikit mengurangi keleluasaan pengendara sepeda.



Kelebihan boncengan sepeda di belakang pengendara: si pengendara akan leluasa mengontrol dan menguasai stang. Meminimalisasi paparan alam (misalnya angin, hujan, ataupun sinar) yang langsung mengenai anak. Diharapkan segala paparan itu akan terlebih dulu mengenai pengendarai sepeda. Komunikasi antara pengendara dan anak dapat terjalin lebih intens, karena kontak mata, kontak lisan, dan kontak ekspresi dapat lebih mudah dilakukan. Misalnya ketika ada obyek tertentu yang sedang diobrolkan.

Kekurangannya: si pengendara tidak leluasa mengawasi si anak. Bisa jadi anak terlelap, kelilipan (renik memasuki matanya), atau hal lainnya terjadi, dan pengendara tidak bisa mengetahuinya saat itu juga. Komunikasi antara pengendara dan anak kurang terjalin secara intens. Bisa saja toh si pengendara bicara panjang lebar, kok ya ternyata si anak tertidur pulas!! Duh...
Well, pilihan terpulang pada kenyamanan Anda. Omong-omong, kalau ada pertimbangan dan pilihan tandem yang lain, bisa dong bagi-bagi info....

Aisyah Hilal
Ibu satu anak berumur 11 bulan
http://www.cyclistreport.org/artikel/trmp_bayi.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar