Selasa, 31 Maret 2009

Kembali berperahu kano indian di Selokan Mataram part II





ini foto lain dari berperahu kano indian di Selokan Matara

Andai di sore hari ada penjual minuman dawet ato bakso hangat sambil ada yang menyewakan perahu ini untuk masyarakat umum kayaknya menarik tuh ....

Kembali berperahu kano indian di Selokan Mataram







Kembali pada hari Sabtu 28 Maret 2009 kami mencoba perahu kano indian ini di Selokan Mataram. Ini hasil permintaan anaknya Sandal yang ingin berperahu.

Senin, 23 Maret 2009

thetrekkers.com di koran seputar indonesia

Berawal dari Sepasang Sandal
Sunday, 22 March 2009

Mimpi dan mengubur gengsi.Itulah modal terbesar Ferri Iskandar dalam membangun The Trekkers Foot Station,gerai yang menawarkan peralatan aktivitas alam bebas.

The Trekkers Foot Station awalnya adalah toko ritel dan distributor khusus yang menjual sepatu pengendara sepeda motor (bikers), pendaki gunung, panjat tebing, arung jeram, off road, ataupun kegiatan outdoor lain.

Pada perkembangan selanjutnya dan makin tingginya tuntutan konsumen yang menginginkan produk- produk lain di bidang petualangan, keamanan (safety), dan penyelamatan (rescue), akhirnya Ferri merambah berbagai macam peralatan alam bebas tersebut tanpa melupakan inti bisnis usaha, yaitu bidang sepatu dan sandal petualangan.

Dalam memasarkan produknya, Ferri memilih caraonline. Pada 2 Mei 2008, situs www.thetrekkers.com telah dikunjungi 24.486 peselancar dunia maya dan telah mencapai hits 439.871. Selain mengembangkan toko online,pengembangan toko offline, baik yang menetap maupun mobile, direncanakan akan dibuat.

Untuk memenuhi tuntutan konsumen yang ingin melihat langsung, Ferri mendirikan toko The Trekkers di Jalan Palagan Tentara Pelajar Km 9 Sarihardjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.Toko ini difungsikan sebagai ruang pamer. Sebelum menjadi pengusaha peralatan aktivitas ekstrem ini,Ferri pernah bekerja pada sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Namun, profesi sebagai pekerja LSM tidak membuatnya sukses.Lalu, dia berniat membuka usaha sendiri. Awalnya, banyak kolega Ferri yang menyayangkan keputusannya mundur dari dunia LSM.Apalagi pada awal berusaha Ferri sering menggelarusahanya dipinggir jalan masuk ke Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Ferri juga menempati toko yang dibangun sendiri. Awalnya, dia hanya mengeluarkan modal Rp8 juta. Menurutnya,berusaha sendiri adalah pilihan terbaik untuk mendapatkan penghasilan yang lebih menjanjikan. Terlebih, saat memulai usaha, Ferri tengah digelayuti keinginan untuk menikah.

”Kalau mengingat saat memulai usaha sangat menyedihkan. Bahkan banyak yang menganggap pekerjaan ini dengan sebelah mata,” ujar Ferri kepada SINDO. Ide Ferri menggeluti bisnis peralatan alam bebas berawal dari pengamatannya terhadap kegiatan petualangan.

Dia menganggap petualangan bukan lagi sebagai sebuah olahraga berisiko tinggi yang digemari kalangan tertentu,tetapi sudah menjadi tren atau gaya hidup.Dalam pandangannya, bersepeda motor ataupun mobil di jalan raya maupun di lahan offroad bukanlagidilakoni mereka yang pembalap, petualang, atau pencinta alam, melainkan sudah menjadi aktivitas harian alias sebagai kegiatan refreshing.

Lalu,dia melihat fungsi sepasang sandal yang diyakini mampu ”menyelamatkan” kaki dari luka ketika menempuh jalan yang berbatu. Namun, hal tersebut tidak maksimal karena bagian pergelangan kaki masih terbuka.Untuk itulah harus digunakan sandal yang dirancang khusus serta pengembangan berbagai jenis sepatu yang dipergunakan untuk kegiatan petualangan dan bagi pengendara motor atau pegiat off road.

Di samping itu, Ferri menganggap konsumen masih melihat sepatu sebagai fungsi pelindung kaki saja. Lalu, dia menelurkan ide agar sepatu bisa menjadi fashion.Seperti tas ransel (day pack) yang dulunya hanya dipakai kalangan pencinta alam atau petualang saja sekarang hampir seluruh anak sekolah menggunakannya.

Saatini, Ferri sudah bias menikmati hasil jerih payahnya. Menurutnya, keberhasilan yang dicapai merupakan buah dari strategi untuk terus berjuang. Ferri mengakui,banyak perusahaan besar yang bergerak di bidang yang sama, tapi mereka jarang melayani partai eceran,apalagi via online.

Meski tergolong sukses,Ferri tidak lantas puas.Dia masih berusaha untuk mengembang kan usahanya menjadi lebih besar lagi. ”Sampai sekarang saya terus berjuang menggapai mimpi yang besar,”ujar Ferri.

sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/223025/

Jumat, 20 Maret 2009

Sepeda dan Perahu Kano

Ternyata untuk membawa perahu kano dengan panjang 4 meter dan berat sekitar 25 kg tidak harus pakai mobil ataupun kenderaan bermotor lainnya. Sepeda ternyata juga bisa dipakai untuk memindahkan perahu ini ke danau ataupun sungai terdekat

Jadi tidak usah sungkan-sungkan lagi menggabungkan olah raga bersepeda dengan berperahu kano






Kamis, 19 Maret 2009

Workshop Penanganan Ular

Ular adalah salah satu binatang yang masuk dalam rangkaian alur mata rantai kehidupan. Sampai saat ini, karena minimnya pengembangan studi tentang ular di masyarakat, paradigma masyarakat umum tentang ular cenderung negatif. Semua jenis ular terkesan menyeramkan dan mematikan, akibatnya, banyak sekali ular mati sia-sia karena dianggap binatang yang berbahaya. Padahal, sebenarnya hanya sekitar 5% saja dari ± 250 jenis ular di Indonesia yang berbisa dan mematikan sehingga perlu dihindari. Selebihnya adalah ular - ular biasa yang tidak perlu dibunuh sehingga perlu dilestarikan.

Ular merupakan binatang reptilia yang dapat kita jumpai di halaman rumah, kebun, sawah, ladang, hutan, sungai, rawa-rawa, pegunungan, pantai, laut, samudra bahkan di saluran – saluran air perkotaan seperti kota Jakarta. Untuk daerah tropis seperti di negara kita, jumlah ular cukup banyak dan bermacam-macam jenisnya, baik yang berbisa maupun yang tidak berbisa.

Pengetahuan tentang ular dan keterampilan penanganan bahaya perlu diberikan untuk membantu manusia dalam mengurangi efek dari bahaya psikis terhadap ular sehingga manusia dapat melakukan aktifitasnya sehari-hari tanpa merasa takut terganggu dan juga tidak perlu mengusik serta mengurangi jumlah ular. Keberadaan habitat ular yang cukup dekat dengan lingkungan hidup manusia perlu dikenal, dimengerti dan dipahami agar senantiasa dapat hidup beriringan serta tidak saling mengganggu.

Untuk itu Outpack berkerjasama dengan SIOUX, mengadakan :

Workshop Snake Handling Short
Snake Everywhere, don’t worry, just be prepared

Waktu & Pelaksanaan :
4 April 2009
Jam 09.00 – 12.00
Jl. Warung Buncit Raya, No : 3-A
Jakarta Selatan

Biaya Rp. 175.000

Fasilitas peserta :
Snack,
Panduan praktis tentang ular,
Piagam


Harapannya, setelah mengikuti workshop singkat ini, peserta dapat :
Mengenal ular secara umum & biologis
Mengetahui jenis gigi, jenis bisa/racun dan cara reproduksi
Mengenal berbagai jenis ular dan tingkatan bisa/racunnya
Mengenal bahaya – bahaya ular dan sikap jika bertemu
Mengetahui teknik praktis menghindari gangguan ular
Mengetahui pertolongan pertama gigitan ular (praktek)
Mengetahui teknik penanganan ular agar tidak mengganggu


Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi OUTPACK:
Bayu : 0818.154.826
Andrey : 0818.066.777.54

Jumat, 13 Maret 2009

Embung Blok O sebagai alternatif berperahu kano Indian di Yogyakarta

Jangan bayangkan bahwa Blok O adalah blok baru dalam pencalonan presiden. Blok O ini terletak di dalam komplek Lanud Adisutjipto. Nah .. didalam blok ini ada sumber mata air yang muncul dan mengumpul. Masyarakat sekitar menamakannya embung.

Embung/Kolam Blok O ini bisa sebagai alternatif berperahu kano Indian di Yogyakarta. www.thetrekkers.com dan beberapa anggota mapagama telah mencobanya beberapa waktu yang lalu. Teman-teman mapagama membawa perahu kayak hardcell dan foam nya sedangkan www.thetrekkers.com membawa perahu kano indiannya

www.thetrekkers.com berharap di tempat ini berkembang olah raga perahu kano indian, baik sekedar untuk merasakan bagaimana rasanya beperahu ataupun alasan lainnya






Wisata Perahu di Selokan mataram ?


Saya pernah berpikir, kenapa nggak ada Selokan Mataram Tour by boat/canoe/kayak/dll. Konsepnya bisa seperti kalo di Venice, jadi transportasi umum, tapi juga bisa untuk rekreasi sejarah atau edukasi.

Kalau mau bikin seperti itu, kira-kira apa kendalanya?

Iqbal S.

Bagus juga idenya,

Mungkin kendala yang dihadapi adalah view selama perjalanan agak monoton, juga adanya beberapa jembatan yang mengakibatkan penyempitan jalur selokan. Hal ini mungkin bisa disiasati dengan pemilihan jalur yang selektif.

Ide menarik juga apabila dilakukan di sungai2 yang membelah kota jogja (Sungai Gajah Wong,Code dan Winongo) dimana view lebih eksotis dibanding dengan selokan (bisa melihat atraksi WC apung,hehe..). Hanya saja kendalanya mungkin di beberapa titik yang mengalami pendangkalan. Lebih eksotis lagi apabila pengarungan menggunakan gethek-nya Joko Tingkir hehe..

Selamat mencoba

Ye a ye a ka

Justru termasuk dalam bisnis tersebut adalah mengembangkan sisi-sisi selokan (atau sungai yg dipilih) agar tidak monoton. Dapat pula dikembangkan tujuan-tujuan wisata di ujung sana dan ujung sini, sehingga "kompleks wisata"-nya jadi lebih menyeluruh. kalau mengenai tempat-tempat yang tidak bisa dilewati (a.k.a jembatan/sempit) saya belum menemukan jawabannya, kecuali ada "transit".


Iqbal S.

Minggu, 01 Maret 2009

www.thetrekkers.com di liput tabloid kontan edisi khusus

sesekali boleh narsis dong, thetrekkers.com di liput tabloid kontan edisi khusus Maret 2009 ... liat, baca dan tanggapi yaa

salam
Ferri Iskandar
www.thetrekkers.com

Ini linknya kalo mau membaca secara online

http://kontan.realviewusa.com/?xml=kontanmonthly.xml&guid=D934051A-DB70-46F6-A3E2-56C474265BB9&iid=8288