Senin, 23 Maret 2009

thetrekkers.com di koran seputar indonesia

Berawal dari Sepasang Sandal
Sunday, 22 March 2009

Mimpi dan mengubur gengsi.Itulah modal terbesar Ferri Iskandar dalam membangun The Trekkers Foot Station,gerai yang menawarkan peralatan aktivitas alam bebas.

The Trekkers Foot Station awalnya adalah toko ritel dan distributor khusus yang menjual sepatu pengendara sepeda motor (bikers), pendaki gunung, panjat tebing, arung jeram, off road, ataupun kegiatan outdoor lain.

Pada perkembangan selanjutnya dan makin tingginya tuntutan konsumen yang menginginkan produk- produk lain di bidang petualangan, keamanan (safety), dan penyelamatan (rescue), akhirnya Ferri merambah berbagai macam peralatan alam bebas tersebut tanpa melupakan inti bisnis usaha, yaitu bidang sepatu dan sandal petualangan.

Dalam memasarkan produknya, Ferri memilih caraonline. Pada 2 Mei 2008, situs www.thetrekkers.com telah dikunjungi 24.486 peselancar dunia maya dan telah mencapai hits 439.871. Selain mengembangkan toko online,pengembangan toko offline, baik yang menetap maupun mobile, direncanakan akan dibuat.

Untuk memenuhi tuntutan konsumen yang ingin melihat langsung, Ferri mendirikan toko The Trekkers di Jalan Palagan Tentara Pelajar Km 9 Sarihardjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.Toko ini difungsikan sebagai ruang pamer. Sebelum menjadi pengusaha peralatan aktivitas ekstrem ini,Ferri pernah bekerja pada sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Namun, profesi sebagai pekerja LSM tidak membuatnya sukses.Lalu, dia berniat membuka usaha sendiri. Awalnya, banyak kolega Ferri yang menyayangkan keputusannya mundur dari dunia LSM.Apalagi pada awal berusaha Ferri sering menggelarusahanya dipinggir jalan masuk ke Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Ferri juga menempati toko yang dibangun sendiri. Awalnya, dia hanya mengeluarkan modal Rp8 juta. Menurutnya,berusaha sendiri adalah pilihan terbaik untuk mendapatkan penghasilan yang lebih menjanjikan. Terlebih, saat memulai usaha, Ferri tengah digelayuti keinginan untuk menikah.

”Kalau mengingat saat memulai usaha sangat menyedihkan. Bahkan banyak yang menganggap pekerjaan ini dengan sebelah mata,” ujar Ferri kepada SINDO. Ide Ferri menggeluti bisnis peralatan alam bebas berawal dari pengamatannya terhadap kegiatan petualangan.

Dia menganggap petualangan bukan lagi sebagai sebuah olahraga berisiko tinggi yang digemari kalangan tertentu,tetapi sudah menjadi tren atau gaya hidup.Dalam pandangannya, bersepeda motor ataupun mobil di jalan raya maupun di lahan offroad bukanlagidilakoni mereka yang pembalap, petualang, atau pencinta alam, melainkan sudah menjadi aktivitas harian alias sebagai kegiatan refreshing.

Lalu,dia melihat fungsi sepasang sandal yang diyakini mampu ”menyelamatkan” kaki dari luka ketika menempuh jalan yang berbatu. Namun, hal tersebut tidak maksimal karena bagian pergelangan kaki masih terbuka.Untuk itulah harus digunakan sandal yang dirancang khusus serta pengembangan berbagai jenis sepatu yang dipergunakan untuk kegiatan petualangan dan bagi pengendara motor atau pegiat off road.

Di samping itu, Ferri menganggap konsumen masih melihat sepatu sebagai fungsi pelindung kaki saja. Lalu, dia menelurkan ide agar sepatu bisa menjadi fashion.Seperti tas ransel (day pack) yang dulunya hanya dipakai kalangan pencinta alam atau petualang saja sekarang hampir seluruh anak sekolah menggunakannya.

Saatini, Ferri sudah bias menikmati hasil jerih payahnya. Menurutnya, keberhasilan yang dicapai merupakan buah dari strategi untuk terus berjuang. Ferri mengakui,banyak perusahaan besar yang bergerak di bidang yang sama, tapi mereka jarang melayani partai eceran,apalagi via online.

Meski tergolong sukses,Ferri tidak lantas puas.Dia masih berusaha untuk mengembang kan usahanya menjadi lebih besar lagi. ”Sampai sekarang saya terus berjuang menggapai mimpi yang besar,”ujar Ferri.

sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/223025/

1 komentar:

  1. PUTUSAN SESAT HAKIM BEJAT

    Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
    Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap di Polda Jateng.
    Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak 'bodoh', lalu seenaknya membodohi dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung di bawah 'dokumen dan rahasia negara'.
    Statemen "Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap" (KAI) dan "Ratusan rekening liar terbanyak dimiliki oknum-oknum MA" (KPK); adalah bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah terlampau sesat dan bejat. Dan nekatnya hakim bejat ini menyesatkan masyarakat konsumen Indonesia ini tentu berasarkan asumsi bahwa masyarakat akan "trimo" terhadap putusan tersebut.
    Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan saja. Masyarakat konsumen yang sangat dirugikan mestinya mengajukan "Perlawanan Pihak Ketiga" untuk menelanjangi kebusukan peradilan ini.
    Siapa yang akan mulai??

    David
    HP. (0274)9345675

    BalasHapus