Sabtu, 08 Mei 2010

Ferry Iskandar dan The Trekkers dan PRB

Kawan-kawan Miliser,

Di bagian bawah tiap email yang terkirim dari Milis Bencana ada iklan kecil sbb:
THE TREKKERS (http://www.thetrekkers.com): Sedia peralatan emergency/bencana/gawat darurat, rescue, temporary shelter/tenda, dan peralatan kebencanaan. Kontak: Ferri Iskandar (ferriisk@yahoo.com, hp: +62-812-2765-434)

Iklan kecil itu memang sengaja dipasang oleh Moderator Milis Bencana secara sukarela sebagai sebuah bentuk penghargaan kepada seorang pribadi mandiri yg berkecimpung di bidang pengurangan risiko bencana (PRB). Siapa, apa dan bagaimana Ferry Iskandar dan The Trekkers serta kaitannya dengan PRB? Mari kita tinjau bersama.

Ferry Iskandar dan The Trekkers

Pria berbadan subur "kelas berat" ini termasuk orang yg sangat ulet dan pantang menyerah. Selain itu Ferry dikenal sebagai orang yg humoris dan cepat berteman dengan orang lain. Ferry adalah lulusan Fakultas Teknologi Pangan Universitas Gajah Mada pada tahun 1990-an. Semasa masih mahasiswa Ferry ikut Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) MAPAGAMA dan Uit P3K (sekarang: UKESMA).

Setelah lulus dari UGM Ferry bekerja di Yayasan Dian Desa sebagai petugas lapangan. Saat itu Dian Desa banyak mengerjakan proyek sanitasi di berbagai desa di DIY dan Jawa Tengah. Ferry sendiri pernah memegang program pendidikan lingkungan selama beberapa waktu. Pasca DIY dan Jateng diguncang gempa bumi pada tanggal 26 Mei 2006, Ferry sempat jadi petugas lapangan lembaga-lembaga internasional di bidang tanggap darurat dan pemulihan pasca bencana. Dari pengalaman itu memberikan wawasan dan pemahaman yang cukup mendalam mengenai kerja-kerja kemanusiaan dan penanggulangan bencana.

Saat ini Ferry Iskandar tinggal di Jl. Palagan Tentara Pelajar Km 9 Sarihardjo, Sleman, Yogyakarta yg berdampingan dengan toko dan showroom The Trekkers. Ferry didampingi oleh satu orang istri dan dua orang anak.

Ferry Iskandar dan The Trekkers

Pengalaman bekerja di lembaga non-pemerintah dan lembaga internasional menyadarkan Ferry Iskandar bahwa hidup seorang pekerja (staf) adalah penuh ketidakpastian dan selalu "dag-dig-dug" menunggu honor turun. Lembaga non-pemerintah dan lembaga internasional itu sendiri sangat tergantung hidupnya oleh dana-dana dari lembaga donor. Bila dana dari donor berhenti atau proyek berakhir maka para staf akan segera kehilangan pekerjaan. Maka dari itu dengan sepenuh tekad Ferry lalu bekerja secara mandiri guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada tanggal 24 Oktober 2004 Ferry mendirikan The Trekkers, suatu usaha penjualan peralatan pertolongan dan keamanan, peralatan kegiatan-kegiatan luar ruangan (mendaki gunung, panjat tebing, arung jeram, bersepeda, dll). Untuk memasarkan tokonya itu, Ferry membuat toko online The Trekkers dan blog The Trekkers serta memajangnya di situs jejaring Facebook.

Ferry sendiri mengakui bahwa usahanya itu tidaklah mudah. Proses jatuh bangun Ferry dalam mengembangakan The Trekkers dapat dibaca pada artikel liputan koran Kontan di bawah ini. Hanya ada satu mimpi Ferry, yaitu menjadikan www.thetrekkers.com sebagai toko online nomor satu (1) di Indonesia di bidang penjualan sepatu, peralatan petualangan dan peralatan emergency/safety/rescue.

Ferry Iskandar dan The Trekkers dan PRB

Lalu apa hubungan Ferry Iskandar, The Trekkers dengan PRB? Sebagai orang yang cukup kenyang pengalaman lapangan pada lembaga non-pemerintah dan lembaga internasional di bidang kemanusiaan dan penanggulangan bencana, Ferry melihat ada celah-celah yg bisa dikerjakan secara kreatif dengan sumber daya yg ada dari bumi Indonesia sendiri. Tidak semua peralatan/perlengkapan utk kegiatan kemanusiaan dan penanggulangan harus didatangkan dari luar negeri atau dibuat di pabrik-pabrik yang canggih.

Salah satu contoh adalah ide kreatif Ferry utk membuat perahu pertolongan pada saat bencana banjir. Pada umumnya perahu pertolongan atau evakuasi pada saat banjir adalah menggunakan perahu karet. Selain harganya yg mahal, perahu karet membutuhkan perawatan yg teliti dan kontinyu. Bila perahu karet dibiarkan begitu saja di gudang maka akan segera rusak dan dimakan tikus, tampaknya tikus cukup gemar memakan bahan-bahan di perahu karet tersebut sehingga jadi bolong. Dan bila sudah ada yg bocor maka akan cukup repot utk menambalnya. Selain itu utk pertolongan dan evakuasi dari bencana banjir di daerah perkotaan, perahu karet banyak mengalami kendala spt sempitnya gang-gang di kota, banyak perumahan/pemukiman, perahu karet bocor kena tusuk pagar secara tidak sengaja.

Dari ide itu kemudian muncul ide kreatif Ferry utk membuat sebuah perahu pertolongan evakuasi yg sedikit (atau bahkan tanpa) perawatan, tidak bocor bila kena paku atau pagar, cukup kecil sehingga bisa melewati gang-gang sempit di perkotaan, dan menggunakan bahan-bahan lokal Indonesia serta murah harganya. Maka jadilah perahu seperti ini:

Setiap orang setelah ikut pelatihan yg diadakan oleh Ferry akan bisa membuat perahu seperti di atas. Bila tertarik silahkan hubungi:
THE TREKKERS (http://www.thetrekkers.com): Sedia peralatan emergency/bencana/gawat darurat, rescue, temporary shelter/tenda, dan peralatan kebencanaan. Kontak: Ferri Iskandar (ferriisk@yahoo.com, hp: +62-812-2765-434)

Selain ide membuat perahu pertolongan dan evakuasi saat bencana banjir di atas masih ada beberapa ide kreatif Ferry utk mempermudah kerja-kerja kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Prinsip-prinsip ide utk peralatan/perlengkapan kerja-kerja kemanusiaan dan penanggulangan bencana adalah dapat dibuat oleh masyarakat, menggunakan bahan-bahan lokal, tahan banting, praktis, minim perawatan, dan murah. Banyak hal bisa dikurangi dari suatu risiko bencana bila kita telah menyiapkan beberapa mekanisme dan peralatan. Dan disini Ferry Iskandar adalah salah satu orang yg secara kreatif menjawab permasalahan lokal dengan solusi lokal pula.

Salut kepada Ferry Iskandar dan istri yg telah bekerja keras utk mewujudkan pengurangan risiko bencana secara mandiri dan kreatif.

salam,
djuni
Moderator milist Bencana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar